Jumat, 16 Agustus 2013

Sekalimat Rindu

: Dafinah

Nak,
Ada yang menghujam tibatiba
Di dalam dada
Mendesak

Nak,
Tak kutemukan kumpulan katakata
Hanya sesak teraba
Melesak

Sekiranya jarak adalah seutas benang
Telah kuguntingi sekat yang menjadi batas
Sekiranya waktu serupa lembar kertas
Telah kulipat sekecilnya
Agar tubuh mungilmu tiba di pelukku
Hingga rindu ini tak lagi gagu

Nak,
Ada yang hendak tumpah
Di balik kelopak

Tertahan




My Dafinah
Dafinah

Rabu, 01 Agustus 2012

Pada Sebuah Awal, Kita Usai



Ada bisu yang paling senyap mencipta jarak antara kita. Menghadirkan beku. Kau-aku tak lagi mampu menghalau dinginnya sunyi, meski dengan segala benang keriangan yang telah terpintal. Kabut telah terlalu tebal mengukir jeda pada jemari kita yang dulu saling bertaut. Kini, kita berada di persimpangan. Langkah kaki kita tak lagi ingin saling beriringan. Kedua lengan kita pun enggan bertukar peluk. 

Selasa, 29 Mei 2012

Kepadamu (Sebuah Tulisan Lalu)



Dan pada hatimu telah kutikamkan belati

Malam ini, malam yang tak pernah terlintas dalam warna-warna harap kita kemarin. Harap yang hanya kita baca dalam satu kata, indah. Selayar sms dan berbaris kalimat telah kujelmakan belati yang menikam hati tulusmu. Aku tak berani menanyakan rasanya. Cukup mendengar senyummu yang tak lagi sama atau kalimatmu yang tertahan. Nyeri.

Luruhlah merah dalam genggaman
Kau pasti merasakan sakit. Perasaanmu yang putih telah kunodai dengan sebuah larik cerita lalu. Cerita usang berdebu yang harusnya terkubur, tiba-tiba menjelma hantu mengusik ketenangan yang kita punya. Dan ini salahku! Telah kulukis noda pada kanvas tempat kita melukis bersama. Tanganku berlumur merah

Serakan Galau


Pada sebuah janji akan larik-larik puisi...

Hari-hari telah penuh peluh menanti
Mungkin pula engkau
Sementara rahim kataku telah mandul
Tak lagi mampu membesarkan benih aksara
Maka mengendaplah baris-baris kata
Yang sedia menjelma puisi
: aku masih butuh waktu

Pada sebuah hari kala usia berganti...

Tak ada manis coklat yang dilahap mata
Juga nyala lilin yang dirindui hembus nafas
Namun sepi bukanlah kawanmu, sayang
Ada puluhan do'a di dinding rumahmu
Munajat tulus dari ayah-bunda
Juga bulir-bulir asa yang kau tanam

Jemari ini yang kian laun merapuh
Diam-diam dalam hening malam
Tengadah
: Semoga kau selalu dalam peluk-NYA


Pada sebuah diri yang patah hati

Kata siapa patah hati identik dengan kehilangan kekasih?
Aku tidak!
Kau masih di dekatku
Dan aku yakin itu

Namun hatiku telah patah, Sayang
Tak lagi kutemui binar asaku dahulu
Padam

Tak lagi tegak kepalaku
Tak lagi kokoh semangatku
Layu

Aku patah hati, sayang
Bukan padamu
: Izinkan kepalaku layu di pelukmu.



*11 Nopember 2011*


Kamis, 26 April 2012

Risalah Cinta




: Kepada sepasang mata bening yang setia menemaniku.






Ingatkah dahulu kala sepasang mata kita masih lugu menatapi dunia? Diantara bunga ilalang, kita lahap menatapi matahari sore yang berjingkat pelan-pelan. Kedua tangan mungil kita sibuk menghalau gatal yang tanpa permisi berekspansi pada pori betis kecil kita. Lalu, tawa nyaring darimu akan mengiringi jubah jingga yang ditanggalkan langit saat melihat mukaku meringis, menahan perih bekas kuku yang meninggalkan gurat kemerahan. Bulat matamu menggantikan matahari kala itu. Kau dan aku adalah sepasang sahabat kecil yang berjanji takkan melepaskan tautan kelingking kita.
.
Tahun semakin menua, begitu pula usia kita yang melesat pada bilangan yang tak mampu lagi digenapkan oleh jari-jari kita. Ruang kelas yang angkuh menjelma tabir antara mataku dan matamu. Berlembar kertas menyita waktuku dan waktumu. Letih pun menggumuli tubuh kita. Namun ada yang tak berubah. Kau dan aku masih sama, senang melahap langit jingga. Kau membayangkan puluhan bulatan sunkist, sementara barisan-barisan wortel telah menjajah kepalaku saban sore. Kau dan aku tetap menjadi sepasang sahabat yang tetap saling menautkan kelingking.