Senin, 20 Desember 2010

Melarung Kenangan

deviantart.net
http://fc02.deviantart.net/fs42/i/2010/036/8/e/Sea_and_sky_by_anndr.jpg
.
Sore ini hari kelima aku berada di kotamu. Dua hari lagi aku akan pergi. Sedari dulu kau selalu memberiku batasan, hanya boleh berada tujuh hari di kota ini. Lebih dari itu, kau takkan menemuiku lagi meski aku merengek-rengek memintamu menemaniku berkeliling. “Bukankah sudah kukatakan, jangan lebih tujuh hari jika ingin menemuiku,” sungutmu hari itu, di hari kedelapan yang aku habiskan dengan mengitari putaran waktu di kota Anging Mammiri ini. Kesal terbaca dari nada suaramu. Dan kau membuktikan ucapanmu. Tak kau kunjungi aku di penginapan, bahkan mengantar kepulanganku pun engkau abai.

Warna langit pelan-pelan pupus. Aku masih betah duduk di sini. Di atas pasir hitam yang selalu kita bayangkan putih, lalu membiarkan lidah laut menyelinap menjilati jemari kaki kita. Hari ketujuh kedatanganku tahun lalu, kusempatkan bertanya perihal angka tujuh yang begitu kau agung-agungkan. Kita sudah terlalu tua untuk membicarakan hal-hal keramat, tapi tetap saja kefanatikanmu pada angka itu mengusikku.
“Mengapa harus tujuh, Mala? Mengapa angka itu harus menjadi batasan pertemuanku denganmu?” Kau hanya mengacak rambutku. Tersenyum.
“Karena buatku angka tujuh itu istimewa. Seistimewa angka sembilan, tapi hatiku telah cinta pada angka itu.” Ah, jawabanmu makin membuatku pusing. Itu bukan sebuah jawaban. Hanya sebuah alur yang berputar.
“Aku butuh alasan, Mala. Bukan ungkapan cinta. Jujur saja aku benci dengan angka itu. Selalu jadi batasan-batasan kita melepas rindu. Berikan aku alasan itu.”
“Berapa banyak alasan yang kau butuh?”
“Seberapa yang ikhlas kau bagikan untukku?”
“Mmmh… tak ada alasan logis mengapa aku jatuh cinta pada angka itu. Hanya sebuah simbol-simbol yang membuatku selalu ingat pada yang menciptakan kita. Bumi tempat kita menabur mimpi, langit tempat kita menatap harap diciptakanNya tujuh lapis. Surah Fatihah yang senantiasa kita baca saat menemuiNya ada tujuh ayat, serupa dengan jumlah guliran hari dan organ tubuh kita saat sujud menghadapNya. Kaupun pasti ingat jumlah sapi dalam mimpi Raja Mesir yang ditafsirkan oleh Nabi paling tampan, Yusuf, ada tujuh ekor gemuk dan tujuh ekor kurus bukan? Putaran thawaf, sa’i dan jumlah kerikil dalam lontaran jumrah juga tujuh. Ah..diriku jadi ceramah agama ya?” ujarmu terkekeh. Kau tahu aku paling tidak betah mendengarkan pembicaraan seputar agama, apalagi jika sudah berdebat kusir.
“Oya, satu lagi… gadis tidak boleh pulang di atas jam tujuh malam,” kedipmu sambil melemparkan pasir ke arahku lalu berlari menjauh. Matahari yang memudar menjadi tanda pertemuan kita harus berakhir.

Mala, Kumala tepatnya,” ucapmu memperkenalkan diri di hari pertama orientasi kampus. Perempuan berdarah Bugis yang setia merecoki kepalaku dengan segala adat yang kau pegang teguh, sementara aku lebih menikmati gayaku yang semaunya. Kau pulalah yang mengajarkanku mencintai laut dan langit jingga. “Kau tahu Wawa, sore seperti ini adalah masa dimana rindu kurasakan begitu meruah. Masa-masa menanti pertemuan dengan bulan juga harap-harap cemas jika nafas esok masih akan ada. Dan nenek, selalu mengajarkanku berdo’a di waktu-waktu seperti ini.” Dasar kau, perempuan berambut ikal yang selalu menjadikan sore sebagai lumbung inspirasi, dan aku dengan setia mendengarkan segala kicaumu. Yah, dua telinga yang diciptakan untukku kumaksimalkan jika bersamamu camar soreku.

Mala, lima tahun kita bersahabat semakin nyata jika kita memang berbeda. Namun, jika telah tiba waktunya bersua maka kita ibarat magnet berbeda kutub. Tapi hanya tujuh hari. Sesudah itu tak ada lagi dispensasi, tak ada lagi pertemuan meski tubuhku telah sebulan bergumul dengan hawa panas kota ini. Seperti hari itu, lagi-lagi aku melanggar perjanjian kita. Tapi, sungguh kali ini pelanggaran ini harus kau maafkan. Rasa was-was lah yang membuatku membatalkan langkah kakiku memasuki gate bandara. Rasa khawatir yang timbul setelah sebuah pesan singkat menggetarkan kantong jeansku.

Kak Mala sejak semalam kesurupan, kak. Sekarang sedang dibawa ke orang pintar. Kakak bisa ke rumah sekarang? Pesan singkat dari adikmu. Yah seluruh keluargamu tahu kedekatan kita hingga mereka merasa perlu membagi rasa khawatir mereka padaku. “Bagaimana mungkin seorang Kumala yang kukenal bisa kesurupan?” batinku. Bergegas langkahku. Tak kuhiraukan lagi corong-corong yang meneriakkan nomor penerbanganku.

Di rumahmu, kulihat mata ibumu sembab. Tak ada sesiapa selain beliau. Kesurupan apakah engkau gerangan hingga duka begitu tersirat di wajah tirusnya? Tanya berpilin-pilin di kepalaku.
“Mala sekarang di mana, Bu? Kok bisa dia kesurupan?”
“Ibu juga tidak tau, Wa. Sore sepulangmu dari pantai bersamanya tiba-tiba saja dia menggeram dan meracau tak jelas. Seisi rumah kaget. Orang pintar sudah dipanggil sejak semalam, tapi tetap saja tak ada perubahan. Sekarang dia di bawa ke pantai yang kalian kunjungi kemarin.”
“Wawa mau ke sana, Bu. Ibu mau ikut?”. Anggukan kepala ibumu membuatku segera menyusul.

Di sana, di bawah terik matahari, di tengah debur ombak, mereka yang menamakan diri orang pintar melakukan ritual yang membuat hatiku perih, Mala. Mereka membenamkan kepalamu berulang-ulang. Membuatmu megap-megap kehabisan nafas. Perlawananmu kandas di tangan kukuh mereka. Yang mau mereka keluarkan apa? Jin ataukah nyawamu? Ayah dan kakak lelakimu hanya berdiri mematung menyaksikan adegan itu. Tidak denganku, aku tak sanggup melihat tubuhmu lemas kehabisan tenaga meronta. Berlari ke sana, itu yang terpikir olehku. Melawan mereka, membawamu ke rumah sakit, itu yang selanjutnya kulakukan. Melihatmu terbujur kaku tertutupi kain putih, pemandangan itu yang terpapar sepuluh menit setelah kita tiba di rumah sakit. Ngilu, Mala.

“Paru-parunya sudah kemasukan banyak air,” singkat penjelasan dokter mengakhiri hari kedelapan aku berada di kotamu. Hari aku terbebas dari rutuk kesalmu atas pelanggaranku tapi juga menjadi hari perpisahan kita.

Sore ini hari kelima aku berada di kotamu. Dua hari lagi aku akan pergi. Setelah tujuh hari, kunjungan ini berakhir. Jilatan ombak menyadarkanku, sudah cukup waktu untuk menjenguk genangan kenangan kita. Kota ini akan kutinggal jauh. Kenangan tentangmu akan kulipat rapat-rapat. Langit pun telah merona jingga. Seperti katamu dahulu, gadis tak boleh pulang di atas jam tujuh malam. Aku pulang, Mala.

Luka Tiga Hati

Adzan Isya berkumandang, menembus dinding-dinding yang saling merapat di pemukiman padat penduduk ini. Lena mengintip di balik kerai, mencoba mencari bayangan suaminya. Sia-sia. Kali ini dibiarkannya kerai terbuka lalu menghampiri kedua putri kembarnya yang sibuk menggambar.

“Disya menggambar apa, sayang?”
“Istana, Ma. Ada kita di dalamnya.”
“Oya? Mana coba mama lihat.” Disya mengangsurkan kertas gambarnya. Sebuah istana lengkap dengan para penghuninya. Kata mama, papa, Disya, Kesya menjadi atribut di bawah tiap gambar.
“Gambarnya mirip perayaan ulang tahun Disya kemarin ya.” Disya mengangguk.

Seperti itulah Disya, tiap kali mendapat tugas menggambar maka istana adalah gambar favoritnya. Kastil, ruang yang megah dan gambar seorang putri bergaun peach adalah tokoh utama di setiap lembar kertas gambarnya. Situasi yang mirip saat pesta pertambahan umurnya yang genap tujuh tahun.

Lena mengalihkan fokus pandangnya pada Kesya. Putrinya yang satu ini telah menghabiskan setengah lusin crayon berwarna hitam dalam sebulan ini. Gambar yang dibuatnya jauh dari warna cerah laiknya gambar anak lain seusianya.
“Eum, kalau Kesya gambar apa, sayang?”
“Rumah kita, Ma.” Lena menatap kertas gambar di depan Kesya. Awan yang abu-abu, kotak-kotak yang berhimpitan, aliran sungai yang berwarna coklat tua. Tak ada warna biru di sana, warna kesukaannya.
“Kotak-kotak ini apa, Ke?
“Rumah tetangga”. Singkat.

Lena menghela nafas. Kedua putrinya memang lahir kembar identik. Sebuah cekungan di pipi Kesya lah yang menjadi beda. Mereka identik secara fisik, namun sikap mereka menerima hidup yang sekarang sungguh beda. Mereka membangun dunia mereka masing-masing tanpa saling ganggu, tanpa saling melirik. Ada nyeri di ulu hati Lena.

Lena mampu melihat bagaimana Disya seolah-olah masih merasakan kehidupan yang dahulu, saat Rasya, ayah mereka, masih menjadi wakil direktur sebuah perusahaan semen ternama di kota ini. Disya masih menyimpan bagaimana rasanya menjadi seorang putri. Sementara Kesya, ia berusaha menerima kenyataan hidup mereka yang sekarang, yang sudah sangat jauh berbeda. Dan penerimaan itu digambarkannya gelap. Kelam.

Pandangan Lena kembali membentur jendela. Masih kosong. Jam di dinding menunjuk angka setengah sembilan.
“Kesya, Disya, bobo yuk. Udah setengah Sembilan. Mama punya cerita baru lho.” Mata kedua putrikembar itu binar. Segera membereskan crayon dan kertas gambar mereka.
“Dongeng putri dan istana lagi yah, Ma.” Disya merajuk dengan mata membola.
“Bosan”. Kesya kali ini tak setuju.
“Malam ini mama punya cerita lain, judulnya Papa Jerapah. Hem, penasaran kan? Yuk, kita ke tempat tidur.”

Lena mendongengkan Papa Jerapah pada Disya dan Kesya hingga lelap. Sebuah harap teriring dari hati, semoga mereka bisa berbesar hati menerima situasi sulit sekarang. Situsi yang sungguh jauh berbeda dari masa-masa saat ayah mereka masih dipercaya sebagai tangan kanan di perusahaan semen itu. Kebahagiaan terakhir yang mampu mereka kecap adalah perayaan usia mereka yang genap tujuh tahun. Disya dengan gaun peach, Kesya dengan gaun biru. Keduanya manis, mengalahkan gambar malaikat-malaikat di teve. Sebulan setelah malam perayaan, semuanya berubah. Disya dengan gambar istana, Kesya dengan crayon hitam adalah monumen perubahan itu.

Kembali Lena menghela nafas. Sudah jam sepuluh malam suaminya belum juga pulang. Pulang larut, kebiasaan yang sama saat Rasya masih menjadi orang penting. Berkeliling kemana lagikah gerangan? Lakukah segala dagangan yang dibawanya? Masih asyik bertanya, didengarnya ketukan kecil di pintu. 

Langkahnya tergesa, takut sang suami marah.
Tas besar di pundak kanan diletakkan Rasya ke lantai. Dasinya diperlonggar lalu beranjak ke dapur. Segelas air putih tandas. Lena mendekat.
“Mas, kok pulangnya malam?”
“Ada meeting dengan klien tadi.”
Nyeri kembali terasa di ulu hati Lena, bukankah klienmu telah meninggalkanmu, Mas…?

[Cerita Dangke] Serupa Menyusu dari Sapi

Sebuah cerita basi karena kehabisan inspirasi

Sebulan lalu menjelang hari raya Idul Qurban kembali saya menempuh perjalanan selama 10 jam dari Tana Toraja menuju kota Makassar. Jika pada bulan-bulan sebelumnya perjalanan saya habiskan dengan tidur di atas bus, maka perjalanan kali ini agak sedikit berbeda. Berbeda karena saya mendapat tumpangan gratis dari kepala sekolah tempatku bertugas dan juga pengalaman baru. Yah, pengalaman baru sebab mampu menikmati pemandangan indah sepanjang jalan dan juga berkenalan langsung dengan salah satu makanan khas yang jarang terdengar di telinga. Inilah yang akan saya ceritakan disini, namun jika terlalu berputar-putar harap dimaklumi, namanya saja kehabisan inspirasi.
Kami meninggalkan Tana Toraja yang terkenal dengan ritual Rambu Solo (sebuah pesta kematian yang kemeriahannya mengalahkan resepsi pernikahan) pukul tiga sore. Toraja adalah salah satu kabupaten terindah di propinsi Sulawesi Selatan menurutku, sebab sepanjang jalan mata memandang yang nampak adalah hijaunya gunung yang masih perawan.
Namanya perjalanan yang tak terikat apapun, maka beberapa kali kami singgah, entah membeli buah tangan atau sekedar melepas penat. Meninggalkan kabupaten Toraja dan memasuki kabupaten Enrekang, maka akan dijumpai penjual sayuran di pinggiran jalan. Yah, Enrekang memang terkenal dengan produksi sayuran segar dengan harga murah sehingga tak salah jika istri kepala sekolahku menjadikannya persinggahan pertama. “Beli sayur untuk mertua, mumpung murah,” ujar ibu empat anak ini.

enrekangtelukpalu.com
enrekangtelukpalu.com
Persinggahan kedua adalah membeli buah tangan. Inilah yang berkesan, sebab buah tangan kali ini lain dari biasanya, namanyaDangke. Nama ini sering terdengar namun agak kurang familiar di telingaku, hingga membuat penasaran. Dangke adalah makanan khas Enrekang yang sering diplesetkan dengan sebutan keju Enrekang. Bentuknya menyerupai tahu tapi agak lebih besar, berwarna putih dan agak kenyal. Lalu mengapa diplesetkan dengan sebutan keju Enrekang? Mari kita tanya si pembuat dangke… hehehe….
Dangke merupakan makanan khas yang pembuatannya sangat sederhana dari bahan yang sederhana pula, susu sapi atau susu kerbau (kami menyebutnya tedong). Dangke dibuat dengan cara merebus campuran susu sapi/kerbau, garam dan sedikit getah buah pepaya muda. Kata sang pembuat dangke, getah pepaya ini fungsinya untuk menggumpalkan susu, tapi tidak boleh terlalu banyak, takut dangke menjadi pahit. Setelah googling, tahulah bahwa getah pepaya itu mengandung enzim papain yang berfungsi memisahkan protein dan air sehingga susu menjadi padat. Hem, hebat siapa yah sang pembuat dangke atau om google…?

jadikanharinilebihbaik.blogspot.com
Nah, setelah susu menggumpal, maka adonan susu tadi dicetak dalam tempurung kelapa yang telah dibelah menjadi dua. Setelah adonan membeku, maka dangke dibungkus dengan daun pisang dan siap dinikmati, baik dimakan langsung ataupun dipanggang/di goreng terlebih dahulu. Sebuah keberuntungan saat itu buatku adalah melihat langsung proses pembuatan dangke tersebut, meski tidak sampai selesai. Info bermanfaat itu pun akhirnya dipertukarkan dengan selembar uang puluhan ribu. Yah, satu buah dangke dihargai sepuluh ribu rupiah, tapi belinya ga satu kok… hehe…
Belum meninggalkan tempat tersebut, mataku kembali melihat cemilan yang lain. Bukan Taro, Chiki dan sekawanannya, keripik Dangke itulah namanya. Dikemas dalam plastik bening kecil-kecil –yang besar juga ada, khas produksi rumah tangga. Hem, penasaran dengan rasa dan cara pembuatannya kembali langkah saya menemui sang pedagang. Ternyata selain diolah menjadi dangke, susu kerbau atau sapi juga bisa diolah menjadi keripik. Cocok bagi orang-orang yang tak senang mengkonsumsi susu secara langsung. Cara pembuatannya pun tak kalah sederhana, berbahan tepung beras, susu, dan garam. Namun langit yang mulai memerah membuatku tak sempat bertanya banyak tentang cara pembuatan keripik itu. Yah, perjalanan masih jauh sementara kepala sekolahku agak kewalahan saat menyetir pada malam hari, maka pertanyaan seputar keripik ditunda hingga saya mendapatkan kesempatan numpang gratis lagi mudik berikutnya. Namun, keinginan untuk mencicipi rasa keripik itu sepertinya tak bisa menunggu maka sekali lagi buah tangan untuk keluarga ditambah, bukan hanya “keju” Dangke tapi juga keripiknya.
Perjalanan berlanjut, melewati gunung Nona yang begitu indah dan membuat rasa takjub akan kuasaNya semakin besar. Singgah sejenak mengagumi keindahannya dengan mulut yang tak henti mengunyah keripik Dangke. “Bagaimana kalau sekalian kita makan dangkenya disini?” saran istri kepala sekolahku. Karena penasaran dan belum pernah mencoba sebelumnya maka anggukan kepalaku segera menyetujui ajakan tersebut. Dangke yang kami beli tadi di iris kecil-kecil, sebagai percobaan maka tanganku memilih irisan yang paling kecil. Aromanya memang seperti keju, namun tetap dominan aroma susu sapi buatku. Menggigit secuil dan melihat mukaku agak merengut maka spontan kepala sekolahku berujar “Bagaimana rasanya? Seperti menyusu dari sapi kan..?” Eum, no comment.

Minggu, 05 Desember 2010

Pesan dari Merpati




Diamku dalam pekat malam
Isyaratkan rindu pada hening yang hilang
Wahai hati yang telah menutup tabir dalam rinduku
Apakah telah kau baca larik makna dalam cengkrama para bintang
Janjikan terang yang kan hadir diantara gelap yang mengiring malammu
Antara nyata dan imaji yang terbalur dalam keinginan
Hamparkan langit malam yang kan menaungi tatap sendumu
Malam pun kan kuhiasi cahya purnama yang merona dalam malu
Untuknya
Keheningan malam ini seakan turut mengerti apa yang ada dalam benakku
Untaian syahdu yang sejenak mengikis kegundahanku
Lagukan syair yang memuji hadirnya
Indahnya
Heningnya
Angannya
Terisyaratkan dalam hadirnya
Bulan
Ungkapkanlah makna yang tersirat dalam kesederhanaannya
Lantunkanlah nada indah yang bertasbih dalam sujudnya
Aksarakan apa yang tergubah dalam pesan yang kutitipkan pada langit malammu
Namanya




> Sebuah pemberian... ^_^

November, Sebuah Perpisahan

November…
Menggulung gaun hujan
Memeluk tanah basah
Mencumbu embun pagi
Menciumi hijau dedaun
Mencubit pipi-pipi bebunga yang malu
Menatap sendu purnama
Menunggu tawa matahari
Melepas genggam pada senja
: aku harus beranjak, pamitnya.
.
Aku…
Kehabisan aksara
Menatap punggungnya yang menjauh
Membawa klon ingatanku
Menanggalkan segala romantisme
Mengenang peluk gigilnya
.
Tak perlu menangisi perpisahan ini
Ada tetanda yang ditinggalkannya
: gerimis pagi ini terasa hangat … sangat…
.