Minggu, 20 Februari 2011

Hadiah Pagi Untuk Wortel Bertopi


Laiknya guliran waktu tanpa jeda yang terus menari
Engkau kini kembali memutari hari
Lantunan do’a serupa langgam penyair dirapalkan tiada jeri
Awali detik pertama bilangan beralih dihitungan jemari
Kerling bintang menjadi tetanda detik yang riang berlari
Iringi rekahnya kuncup harap sehangat tawa mentari
.
Beragam ragu juga galau yang kadang menghuni hati
Enyahkan bersama hembusan angin yang menyapa tiada henti
Riangkan hari, ringankan langkah, tebarkan simpati
Menapaki anak-anak tangga baru dengan langkah pasti
Ada sejuta kilau kunang-kunang berpendaran diantara wangi melati
Temani tapak yang ringan menjejak, seringan kepak merpati
Asapun terajut dari hati yang selalu menanti
.
Terangkum puji padaNya atas segala limpahan kasih tanpa tepi
Esok telah menanti dengan segala rencana yang tersusun rapi
Dalam hening jemari tengadah mengurai mimpi
Usia kembali mengelupas satu seiring merdu denting kecapi
Harap berjuta mekar bersama senyum terkembang di pipi
Kekata juga do’a terjalin dalam malam-malam sepi
Untuknya yang senang menyesap aroma kopi…

>> For him… 1701

Dia Bukan Tempat Mengadu

Bukan padanya kuingin mengadu. Sebab aku tahu dia hanya sebuah persinggahan kecil dari perjalanan yang entah kapan kan berujung. Bukan pula sebuah kebetulan jika aku menemukan dia dalam segala kalut yang merajam. Sesungguhnya segala yang bergulir adalah rencana-rencana yang tak kasat mata. Namun kini, kulihat sebagian diriku sedang bersedu sedan padanya, pada dia yang enggan kujadikan tempat mengadu.

Wajahnya tak sengaja terekam serakan pita ingatanku. Dan kanvas langit setia melukiskannya tiap subuh dan senja. Mengapa harus ada persekongkolan ini? Ingatanku telah letih merapuh dan tak ingin lagi menyimpan segala kenang. Telah kuguntingi segala memori ibarat mengguntingi tali layangan. Kusimpul yang kuingin, kubuang yang menyesakkan. Bukankah menyenangkan jika kepala kita hanya mengingati yang kita ingin. Namun, hati ini enggan berkompromi. Ia lebih memilih bersekongkol dengan langit yang telah meluruhkan nila. Hingga subuh dan sore hari adalah galeri wajahnya.

Sembunyi dan menimbun benci. Sembunyi dari langit. Menimbun benci agar tak mengingatinya. Gagal. Langit yang merona malu serupa magnet buat kedua mataku yang besi. Benci tak menemukan lubang-lubang kecil hati untuk disemai. Maka, sempurnalah wajahnya terpatri dalam mata, kepala juga hati. Lukisan langit itu kini telah berganti bingkai. Tetap saja bagiku, ia bukan tempat mengadu. Aduan-aduanku terlalu kerdil untuk kusandingkan dengannya. Tak pantas, tak sepadan. 

Sekali lagi kumeminta pada langit, berhenti menjalin janji dengan hati. Karena aku tahu, ia layak sebagai apa. Bukan peristirahatan segala keluh. Ia tempat bersandar segala mimpi.
>>Bertopang dagu memandang langit, akhirnya lega…<<


**Dia pun ada di halaman ini

Ijab Qabul

Lantunan nasyid lembut mengalun. Setengah jam lagi akad nikah. Bisa kubayangkan bagaimana tegangnya lelakiku di luar. Sebentar lagi ia mengucap ijab qabul.
Ibu masuk ke kamarku.

“Dizty, kamu sudah siap, Nak?”
“Insya Allah, Bu.”

Kuingati beda antara aku dan dia. Dia rupawan, aku ah… kenangan malam kebakaran dua tahun lalu membuatku bersyukur dengan wajahku yang katanya cantik. Dia seorang hafidz, penghafal Qur’an, sementara aku masih harus menambah rekaman juz amma di kepala. Dia pandai melukis meskipun dia tak sempurna,  sedang aku…sebuah garis lurus selalu patah di tanganku. Dia romantis, aku egois. Dia… Dia….dan Dia….

Dia adalah lelaki yang dipilihkan Tuhan untukku…

“Alhamdulillah, sah!” Kalimat itu jelas terdengar. Do’a dipanjatkan. Lelaki itu masuk ke kamar. Duduk di hadapanku. Aku memandangnya haru.
Tak satupun tangannya yang mampu kuciumi…


** Tulisan ini ada juga di sebuah halaman







minjem dari noveloke.com

Senin, 20 Desember 2010

Melarung Kenangan

deviantart.net
http://fc02.deviantart.net/fs42/i/2010/036/8/e/Sea_and_sky_by_anndr.jpg
.
Sore ini hari kelima aku berada di kotamu. Dua hari lagi aku akan pergi. Sedari dulu kau selalu memberiku batasan, hanya boleh berada tujuh hari di kota ini. Lebih dari itu, kau takkan menemuiku lagi meski aku merengek-rengek memintamu menemaniku berkeliling. “Bukankah sudah kukatakan, jangan lebih tujuh hari jika ingin menemuiku,” sungutmu hari itu, di hari kedelapan yang aku habiskan dengan mengitari putaran waktu di kota Anging Mammiri ini. Kesal terbaca dari nada suaramu. Dan kau membuktikan ucapanmu. Tak kau kunjungi aku di penginapan, bahkan mengantar kepulanganku pun engkau abai.

Warna langit pelan-pelan pupus. Aku masih betah duduk di sini. Di atas pasir hitam yang selalu kita bayangkan putih, lalu membiarkan lidah laut menyelinap menjilati jemari kaki kita. Hari ketujuh kedatanganku tahun lalu, kusempatkan bertanya perihal angka tujuh yang begitu kau agung-agungkan. Kita sudah terlalu tua untuk membicarakan hal-hal keramat, tapi tetap saja kefanatikanmu pada angka itu mengusikku.
“Mengapa harus tujuh, Mala? Mengapa angka itu harus menjadi batasan pertemuanku denganmu?” Kau hanya mengacak rambutku. Tersenyum.
“Karena buatku angka tujuh itu istimewa. Seistimewa angka sembilan, tapi hatiku telah cinta pada angka itu.” Ah, jawabanmu makin membuatku pusing. Itu bukan sebuah jawaban. Hanya sebuah alur yang berputar.
“Aku butuh alasan, Mala. Bukan ungkapan cinta. Jujur saja aku benci dengan angka itu. Selalu jadi batasan-batasan kita melepas rindu. Berikan aku alasan itu.”
“Berapa banyak alasan yang kau butuh?”
“Seberapa yang ikhlas kau bagikan untukku?”
“Mmmh… tak ada alasan logis mengapa aku jatuh cinta pada angka itu. Hanya sebuah simbol-simbol yang membuatku selalu ingat pada yang menciptakan kita. Bumi tempat kita menabur mimpi, langit tempat kita menatap harap diciptakanNya tujuh lapis. Surah Fatihah yang senantiasa kita baca saat menemuiNya ada tujuh ayat, serupa dengan jumlah guliran hari dan organ tubuh kita saat sujud menghadapNya. Kaupun pasti ingat jumlah sapi dalam mimpi Raja Mesir yang ditafsirkan oleh Nabi paling tampan, Yusuf, ada tujuh ekor gemuk dan tujuh ekor kurus bukan? Putaran thawaf, sa’i dan jumlah kerikil dalam lontaran jumrah juga tujuh. Ah..diriku jadi ceramah agama ya?” ujarmu terkekeh. Kau tahu aku paling tidak betah mendengarkan pembicaraan seputar agama, apalagi jika sudah berdebat kusir.
“Oya, satu lagi… gadis tidak boleh pulang di atas jam tujuh malam,” kedipmu sambil melemparkan pasir ke arahku lalu berlari menjauh. Matahari yang memudar menjadi tanda pertemuan kita harus berakhir.

“Mala, Kumala tepatnya,” ucapmu memperkenalkan diri di hari pertama orientasi kampus. Perempuan berdarah Bugis yang setia merecoki kepalaku dengan segala adat yang kau pegang teguh, sementara aku lebih menikmati gayaku yang semaunya. Kau pulalah yang mengajarkanku mencintai laut dan langit jingga. “Kau tahu Wawa, sore seperti ini adalah masa dimana rindu kurasakan begitu meruah. Masa-masa menanti pertemuan dengan bulan juga harap-harap cemas jika nafas esok masih akan ada. Dan nenek, selalu mengajarkanku berdo’a di waktu-waktu seperti ini.” Dasar kau, perempuan berambut ikal yang selalu menjadikan sore sebagai lumbung inspirasi, dan aku dengan setia mendengarkan segala kicaumu. Yah, dua telinga yang diciptakan untukku kumaksimalkan jika bersamamu camar soreku.

Mala, lima tahun kita bersahabat semakin nyata jika kita memang berbeda. Namun, jika telah tiba waktunya bersua maka kita ibarat magnet berbeda kutub. Tapi hanya tujuh hari. Sesudah itu tak ada lagi dispensasi, tak ada lagi pertemuan meski tubuhku telah sebulan bergumul dengan hawa panas kota ini. Seperti hari itu, lagi-lagi aku melanggar perjanjian kita. Tapi, sungguh kali ini pelanggaran ini harus kau maafkan. Rasa was-was lah yang membuatku membatalkan langkah kakiku memasuki gate bandara. Rasa khawatir yang timbul setelah sebuah pesan singkat menggetarkan kantong jeansku.

Kak Mala sejak semalam kesurupan, kak. Sekarang sedang dibawa ke orang pintar. Kakak bisa ke rumah sekarang? Pesan singkat dari adikmu. Yah seluruh keluargamu tahu kedekatan kita hingga mereka merasa perlu membagi rasa khawatir mereka padaku. “Bagaimana mungkin seorang Kumala yang kukenal bisa kesurupan?” batinku. Bergegas langkahku. Tak kuhiraukan lagi corong-corong yang meneriakkan nomor penerbanganku.

Di rumahmu, kulihat mata ibumu sembab. Tak ada sesiapa selain beliau. Kesurupan apakah engkau gerangan hingga duka begitu tersirat di wajah tirusnya? Tanya berpilin-pilin di kepalaku.
“Mala sekarang di mana, Bu? Kok bisa dia kesurupan?”
“Ibu juga tidak tau, Wa. Sore sepulangmu dari pantai bersamanya tiba-tiba saja dia menggeram dan meracau tak jelas. Seisi rumah kaget. Orang pintar sudah dipanggil sejak semalam, tapi tetap saja tak ada perubahan. Sekarang dia di bawa ke pantai yang kalian kunjungi kemarin.”
“Wawa mau ke sana, Bu. Ibu mau ikut?”. Anggukan kepala ibumu membuatku segera menyusul.

Di sana, di bawah terik matahari, di tengah debur ombak, mereka yang menamakan diri orang pintar melakukan ritual yang membuat hatiku perih, Mala. Mereka membenamkan kepalamu berulang-ulang. Membuatmu megap-megap kehabisan nafas. Perlawananmu kandas di tangan kukuh mereka. Yang mau mereka keluarkan apa? Jin ataukah nyawamu? Ayah dan kakak lelakimu hanya berdiri mematung menyaksikan adegan itu. Tidak denganku, aku tak sanggup melihat tubuhmu lemas kehabisan tenaga meronta. Berlari ke sana, itu yang terpikir olehku. Melawan mereka, membawamu ke rumah sakit, itu yang selanjutnya kulakukan. Melihatmu terbujur kaku tertutupi kain putih, pemandangan itu yang terpapar sepuluh menit setelah kita tiba di rumah sakit. Ngilu, Mala.

“Paru-parunya sudah kemasukan banyak air,” singkat penjelasan dokter mengakhiri hari kedelapan aku berada di kotamu. Hari aku terbebas dari rutuk kesalmu atas pelanggaranku tapi juga menjadi hari perpisahan kita.

Sore ini hari kelima aku berada di kotamu. Dua hari lagi aku akan pergi. Setelah tujuh hari, kunjungan ini berakhir. Jilatan ombak menyadarkanku, sudah cukup waktu untuk menjenguk genangan kenangan kita. Kota ini akan kutinggal jauh. Kenangan tentangmu akan kulipat rapat-rapat. Langit pun telah merona jingga. Seperti katamu dahulu, gadis tak boleh pulang di atas jam tujuh malam. Aku pulang, Mala.

Luka Tiga Hati

Adzan Isya berkumandang, menembus dinding-dinding yang saling merapat di pemukiman padat penduduk ini. Lena mengintip di balik kerai, mencoba mencari bayangan suaminya. Sia-sia. Kali ini dibiarkannya kerai terbuka lalu menghampiri kedua putri kembarnya yang sibuk menggambar.

“Disya menggambar apa, sayang?”
“Istana, Ma. Ada kita di dalamnya.”
“Oya? Mana coba mama lihat.” Disya mengangsurkan kertas gambarnya. Sebuah istana lengkap dengan para penghuninya. Kata mama, papa, Disya, Kesya menjadi atribut di bawah tiap gambar.
“Gambarnya mirip perayaan ulang tahun Disya kemarin ya.” Disya mengangguk.

Seperti itulah Disya, tiap kali mendapat tugas menggambar maka istana adalah gambar favoritnya. Kastil, ruang yang megah dan gambar seorang putri bergaun peach adalah tokoh utama di setiap lembar kertas gambarnya. Situasi yang mirip saat pesta pertambahan umurnya yang genap tujuh tahun.

Lena mengalihkan fokus pandangnya pada Kesya. Putrinya yang satu ini telah menghabiskan setengah lusin crayon berwarna hitam dalam sebulan ini. Gambar yang dibuatnya jauh dari warna cerah laiknya gambar anak lain seusianya.
“Eum, kalau Kesya gambar apa, sayang?”
“Rumah kita, Ma.” Lena menatap kertas gambar di depan Kesya. Awan yang abu-abu, kotak-kotak yang berhimpitan, aliran sungai yang berwarna coklat tua. Tak ada warna biru di sana, warna kesukaannya.
“Kotak-kotak ini apa, Ke?
“Rumah tetangga”. Singkat.

Lena menghela nafas. Kedua putrinya memang lahir kembar identik. Sebuah cekungan di pipi Kesya lah yang menjadi beda. Mereka identik secara fisik, namun sikap mereka menerima hidup yang sekarang sungguh beda. Mereka membangun dunia mereka masing-masing tanpa saling ganggu, tanpa saling melirik. Ada nyeri di ulu hati Lena.

Lena mampu melihat bagaimana Disya seolah-olah masih merasakan kehidupan yang dahulu, saat Rasya, ayah mereka, masih menjadi wakil direktur sebuah perusahaan semen ternama di kota ini. Disya masih menyimpan bagaimana rasanya menjadi seorang putri. Sementara Kesya, ia berusaha menerima kenyataan hidup mereka yang sekarang, yang sudah sangat jauh berbeda. Dan penerimaan itu digambarkannya gelap. Kelam.

Pandangan Lena kembali membentur jendela. Masih kosong. Jam di dinding menunjuk angka setengah sembilan.
“Kesya, Disya, bobo yuk. Udah setengah Sembilan. Mama punya cerita baru lho.” Mata kedua putrikembar itu binar. Segera membereskan crayon dan kertas gambar mereka.
“Dongeng putri dan istana lagi yah, Ma.” Disya merajuk dengan mata membola.
“Bosan”. Kesya kali ini tak setuju.
“Malam ini mama punya cerita lain, judulnya Papa Jerapah. Hem, penasaran kan? Yuk, kita ke tempat tidur.”

Lena mendongengkan Papa Jerapah pada Disya dan Kesya hingga lelap. Sebuah harap teriring dari hati, semoga mereka bisa berbesar hati menerima situasi sulit sekarang. Situsi yang sungguh jauh berbeda dari masa-masa saat ayah mereka masih dipercaya sebagai tangan kanan di perusahaan semen itu. Kebahagiaan terakhir yang mampu mereka kecap adalah perayaan usia mereka yang genap tujuh tahun. Disya dengan gaun peach, Kesya dengan gaun biru. Keduanya manis, mengalahkan gambar malaikat-malaikat di teve. Sebulan setelah malam perayaan, semuanya berubah. Disya dengan gambar istana, Kesya dengan crayon hitam adalah monumen perubahan itu.

Kembali Lena menghela nafas. Sudah jam sepuluh malam suaminya belum juga pulang. Pulang larut, kebiasaan yang sama saat Rasya masih menjadi orang penting. Berkeliling kemana lagikah gerangan? Lakukah segala dagangan yang dibawanya? Masih asyik bertanya, didengarnya ketukan kecil di pintu. 

Langkahnya tergesa, takut sang suami marah.
Tas besar di pundak kanan diletakkan Rasya ke lantai. Dasinya diperlonggar lalu beranjak ke dapur. Segelas air putih tandas. Lena mendekat.
“Mas, kok pulangnya malam?”
“Ada meeting dengan klien tadi.”
Nyeri kembali terasa di ulu hati Lena, bukankah klienmu telah meninggalkanmu, Mas…?