Kamis, 26 April 2012

Sejumput Rindu Pada Hujan




/1/
Senja, pada sebuah taman. Hujan jatuh pada telapak tangan kita. Sela jemari kita rapatkan, seolah tak ikhlas serpihan jarum langit itu segera ditampah oleh bumi. Namun, tetap ada ruang tempatnya menyelinap, segera melepas kerinduan pada mula segala berasal. Ia jatuh, sebagian melenting, lalu rebah. Dua pasang bola mata kita menatap tanpa berkedip. Bahasa kita, diam. Ada yang pelan-pelan menyelinap pada lobus-lobus hati. Kita terpasung pada mesmerisme senja yang melankolik.

Labirin Dua Hati


Naufal Arsy is sign out. Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang kubaca sebelum mematikan notebookku. Jam ruang tamu telah menggemakan nada-nada manakala putaran jarumnya tiba pada angka dua belas, lalu berdentang satu kali pada akhir irama. Perbincangan konyolku dengannya masih terbaca di pelupukku.
Naufal Arsy : Jadi siapami yang diundang nanti pas acaramu?
Naura : Teman-teman lah, masa’ musuh :D
Naufal Arsy : Iya.. maksudku saya iyya diundangja?
Naura : Jelasmi, tidak sah acara kalau tidak datangki’
Naufal Arsy : Iya di’, kan saya tong sebagai…
Naura : Sebagai apa? Sebagai parecu? Hahaha :P
Naufal Arsy : Heeum…
Naura : Seriuska’. Datangki’ sama Lena, nah… J
Naufal Arsy : Boleh saya datang sendiri saja?
Naura : Terserah… :P
Itulah sepenggal obrolan kami dalam ruang segiempat berhias kepala berwarna kuning yang tersenyum. Ruang yang kemudian menjadi tempat bagi kami menghabiskan malam saat mata enggan terpejam. Tempat kami saling bercerita atau pun saling mencela.
Larik-larik rindu tersembunyi di kepingan senja
Lalu luruh berselimut gelap malam

Jemarimu, Jemariku

Jari-jarimu, jari-jariku
.
aku masih ingat. aku masih juga merasakan. kala pertama kali jarimu mengisi sela-sela jariku. ya tidak ada sela-sela lagi. Pun dengan hatiku, tidak ada sela lagi, penuh denganmu.
dan hari ini aku tangkupkan kesepuluh jariku. aku isi sendiri sela jariku.” (Dimas Nur)
.
———————
Di sini, di balik jendela ini aku berdiri. Menatap lintasan-lintasan kenangan kita berdua. Mengingati dirimu. Merasakan saat jari-jari kita saling mengisi tanpa sela. Dan kali ini, jari-jarimu tak lagi mengisi kekosongan sela jemariku. Kutangkupkan sendiri, mengisi sendiri sela jariku. Seolah kau hadir disini.
.
———————-
Malam ini, semua berlalu seperti biasa. Semug kopi, sebatang rokok, dan pendar layar komputer. Tiba-tiba merindumu. Merindu jemari kita yang saling mengisi dahulu. Kutangkupkan jemariku, merasakan hadirmu.
.
————————
Kau dan aku terpisah. Namun rindu, kita tuntaskan pada jemari kita yang saling menangkup.


***Inspired by this video

Senin, 05 September 2011

Roo Untuk Moo


Moo…
Mungkin saat ini matamu telah lelap di atas roda-roda karet yang akan membawamu tiba pada peluk bunda terkasih beberapa jam lagi.  Lelaplah Moo, rebahkan letihmu setelah dua hari kau dan aku serupa gasing, berputar-putar untuk berhenti pada tempat yang sama. Tumpukan batu bisu penyaksi sejarah kebesaran daerah kita.

Moo…
Kau bertanya berapa puisi yang kan lahir setelah dua senja kita tenggelamkan pada mata kita. Tak ada angka pasti untuk menjawab itu, Moo. Kita tidak sedang belajar aritmatika atau menebak-nebak konsentrasi larutan kimia. Maka sediakah kau bersabar entah untuk berapa lama…? *kuharap kau menganggukkan kepala dan gigimu berbaris rapi menyunggingkan senyum*

Moo…
Harus berujar apa untuk persuaan kita? Senja pertama yang tanpa sengaja kita habiskan secara tak sempurna di balik kepala beberapa orang adalah sebuah ujung dari kejahilan kita. Aku tak pernah mengira kaki-kaki waktu akan membawa kita hingga tiba pada hari ini, atau mungkin beberapa hari lalu saat kita bersepakat untuk bersama menenun helai-helai benang yang kita satukan dari rasa percaya, sayang, rindu, sedikit ragu dan takut, juga kalimat-kalimat yang kita tukarkan melalui udara. Helai benang yang kita harap kan menjelma kain penuh warna yang kan menjadi pakaian kita satu sama lain.
Kau tahu Moo, luka telah membuatku menganggap hidup ini getir. Dan sim salabim kau tiba-tiba muncul, tertawa dan mengulangi kalimat 3 Idiot “Aal Iz Well” saat kegetiran itu kungiangkan. Jiwamu terbuat dari apa, Moo? *stupid question ya*  Senyum itu tak hilang dari wajahmu kecuali saat blitz kamera siap menyapa J  Aih, Moo… pantaslah kau menjelma  madu yang mengundang kekupu, dan seperti yang pernah kukatakan padamu, aku hanya akan menjadi ulat bulu yang mengamati dari jauh. Tak berharap menjelma kekupu rupawan.

Moo…
Bolehkah kumeminta sedikit kesabaranmu untuk sikapku yang begitu banyak cela? Aku yang tak tahu ini itu, rewel pada yang begini dan begitu, bahkan sensitive yang amit-amit melangit *sebuah pengakuan dosa*. Sedikit saja, Moo… sebentar saja..hingga tiba ulat bulu ini bermetamorfosa menjelma kupu-kupu dengan sepasang sayap sederhana tanpa rona memikat. Sebab, aku tak mau banyak mata yang terpikat, Moo. Cukup satu. Sepasang matamu saja.

Moo…
Dahulu kau meminta sedikit segmen, maka telah kusediakan segmen itu beserta rasa yang telah mengendap menjadi sedimen, kini hanya menunggu bila kan permanen menempati segmen yang ada.  Aku percaya padamu, Moo…  Saat keputusan demi keputusan kuambil, saat manik mata kita beradu, saat itulah aku mempercayaimu…

Moo…
Cukuplah man jadda wa jadda untukmu, man shabara zhafira untukku…lalu kita basuh bersama do’a-do’a,  dan kita balut bersama keyakinan. Semoga mimpi sederhana yang kita tanam kan mekar dengan bersahaja. Aamiin.

Moo…
Kusudahi surat ini sambil berharap  roda-roda yang kini membentangkan jarak antara kita, kelak akan merekatkan kita. Mempertemukan dalam taliNya. Nite My Moo...

                                   




                                                                                                                     Your Roo

Jumat, 05 Agustus 2011

Sebuah Pertemuan







Sebuah pertemuan
Kala gaun oranye membentangi mega
Juga asin air laut disampaikan angin
Liukan ombak pun merdu mengetuk gendang telinga
Dan senyap seketika menjadi bahasa
Untuk sesaat
.
Lalu, derai tawa tak henti
Beragam cerita melantun
.
Harusnya sore ini telah lahir lima pepuisi
.
Buatku cukuplah satu
Sebab Tuhan telah menjelmakan puisi paling indah
Pada tiap-tiap pertemuan yang telah direncanakanNya
Seperti pula pada sebuah persuaan
Yang berakhir kala kumandang adzan menggema
Saat malam merangkak pelan-pelan

Pada sebuah pertemuan… 
110724


Gambar dari sini