Tampilkan postingan dengan label With Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label With Love. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 November 2013

Hujan, Cinta Semai



 
Gambar klik




: Ayah

Suatu hari di sebuah siang yang garang, sepasang tangan menengadah memohon gerimis jatuh meski sejenak. Hatinya telah gersang, ia berharap gerimis mampu menghanyutkan sisa luka yang berakar tepat di ulu hati. Ia lama menanti. Mendung pelan-pelan menggantung. Ternyata bukan gerimis yang jatuh, hujan menderas menerpa. Ia menggigil. Kuyup. Bukan ini yang ia harapkan. Ia merutuk. Menggugat.
Airmata langit yang jatuh tak hanya menghapus air mata di wajahnya, juga meluruhkan segala kenang yang ia prasastikan di dadanya yang telah lama kehilangan debar. Ia tak ingin hutan kenangannya tersapu habis. Namun, ia tak berdaya. Rasa sakitnya telah tercerabut beriring ingatan-ingatannya yang terkikis perlahan.
Suatu hari di sebuah senja yang mendung. Sisa gerimis masih menitik. Sebuah wajah menengadah menatap langit. Ia telah melupakan perihal yang telah menorehkan luka. Aku harus menjemput cintaku, batinnya sembari mengeringkan mata air di wajahnya. Sesungging senyum yang telah sekian lama pensiun dari wajahnya kembali terbit. Kakinya ringan menjauhi langit kelabu.
Almanak berguguran. Sepasang anak manusia saling menggenggam dalam rindu. Berpagut dalam cinta. Segala resah juga luka mereka halau. Sebuah dada yang telah mati kembali menemukan debar. Dada yang lain setia menularkan debar yang tak henti.
Gerimis jatuh perlahan, sepasang manusia bersama menanam benih cinta dengan seikat janji. Kau dan aku selamanya.


P.S : Selamat bertambah usia, Ayah.  Segala yang terbaik selalu buatmu. Semoga benih cinta yang kita tanam selalu semi. Aamiin.

Kamis, 26 April 2012

Risalah Cinta




: Kepada sepasang mata bening yang setia menemaniku.






Ingatkah dahulu kala sepasang mata kita masih lugu menatapi dunia? Diantara bunga ilalang, kita lahap menatapi matahari sore yang berjingkat pelan-pelan. Kedua tangan mungil kita sibuk menghalau gatal yang tanpa permisi berekspansi pada pori betis kecil kita. Lalu, tawa nyaring darimu akan mengiringi jubah jingga yang ditanggalkan langit saat melihat mukaku meringis, menahan perih bekas kuku yang meninggalkan gurat kemerahan. Bulat matamu menggantikan matahari kala itu. Kau dan aku adalah sepasang sahabat kecil yang berjanji takkan melepaskan tautan kelingking kita.
.
Tahun semakin menua, begitu pula usia kita yang melesat pada bilangan yang tak mampu lagi digenapkan oleh jari-jari kita. Ruang kelas yang angkuh menjelma tabir antara mataku dan matamu. Berlembar kertas menyita waktuku dan waktumu. Letih pun menggumuli tubuh kita. Namun ada yang tak berubah. Kau dan aku masih sama, senang melahap langit jingga. Kau membayangkan puluhan bulatan sunkist, sementara barisan-barisan wortel telah menjajah kepalaku saban sore. Kau dan aku tetap menjadi sepasang sahabat yang tetap saling menautkan kelingking.