Waktu telah lama mencipta jeda pada persuaan kita, itu yang ingin kukatakan padamu yang sekian lama kosong, tak terjenguk. Adakah kau rasa sunyi? Maafkan. Maafkan diri ini karena tak lagi bertandang ke sini meski hanya sekadar menitipkan beberapa patah kata. Maafkan, jemariku tak lagi rutin menyatukan aksara di tubuhmu. Ada beragam alasan untuk meninggalkanmu tetap seperti ini. Tapi, malam ini aku punya satu alasan untuk kembali padamu. Sesuatu bernama sepi tiba-tiba menikamku begitu dalam dan ingatanku memapahku padamu.
Semoga bisu yang sekian lama ada diantara kita akan segera berganti. Biarkan jemariku kembali menabung kata di tubuhmu, agar tak lagi tiba hari di mana aku, dia, dan mereka bertanya "Jejak Hujan, masihkah kau berkabar?"
Suatu
hari di sebuah siang yang garang, sepasang tangan menengadah memohon gerimis
jatuh meski sejenak. Hatinya telah gersang, ia berharap gerimis mampu
menghanyutkan sisa luka yang berakar tepat di ulu hati. Ia lama menanti.
Mendung pelan-pelan menggantung. Ternyata bukan gerimis yang jatuh, hujan
menderas menerpa. Ia menggigil. Kuyup. Bukan ini yang ia harapkan. Ia merutuk.
Menggugat.
Airmata
langit yang jatuh tak hanya menghapus air mata di wajahnya, juga meluruhkan
segala kenang yang ia prasastikan di dadanya yang telah lama kehilangan debar.
Ia tak ingin hutan kenangannya tersapu habis. Namun, ia tak berdaya. Rasa
sakitnya telah tercerabut beriring ingatan-ingatannya yang terkikis perlahan.
Suatu
hari di sebuah senja yang mendung. Sisa gerimis masih menitik. Sebuah wajah
menengadah menatap langit. Ia telah melupakan perihal yang telah menorehkan
luka. Aku harus menjemput cintaku, batinnya
sembari mengeringkan mata air di wajahnya. Sesungging senyum yang telah sekian
lama pensiun dari wajahnya kembali terbit. Kakinya ringan menjauhi langit
kelabu.
Almanak
berguguran. Sepasang anak manusia saling menggenggam dalam rindu. Berpagut
dalam cinta. Segala resah juga luka mereka halau. Sebuah dada yang telah mati
kembali menemukan debar. Dada yang lain setia menularkan debar yang tak henti.
Gerimis
jatuh perlahan, sepasang manusia bersama menanam benih cinta dengan seikat
janji. Kau dan aku selamanya.
P.S
: Selamat bertambah usia, Ayah. Segala
yang terbaik selalu buatmu. Semoga benih cinta yang kita tanam selalu semi.
Aamiin.
Ada bisu yang paling senyap
mencipta jarak antara kita. Menghadirkan beku. Kau-aku tak lagi mampu menghalau
dinginnya sunyi, meski dengan segala benang keriangan yang telah terpintal.
Kabut telah terlalu tebal mengukir jeda pada jemari kita yang dulu saling
bertaut. Kini, kita berada di persimpangan. Langkah kaki kita tak lagi ingin
saling beriringan. Kedua lengan kita pun enggan bertukar peluk.
: Kepada
sepasang mata bening yang setia menemaniku.
Ingatkah dahulu kala sepasang mata kita masih lugu menatapi
dunia? Diantara bunga ilalang, kita lahap menatapi matahari sore yang
berjingkat pelan-pelan. Kedua tangan mungil kita sibuk menghalau gatal yang
tanpa permisi berekspansi pada pori betis kecil kita. Lalu, tawa nyaring darimu
akan mengiringi jubah jingga yang ditanggalkan langit saat melihat mukaku
meringis, menahan perih bekas kuku yang meninggalkan gurat kemerahan. Bulat
matamu menggantikan matahari kala itu. Kau dan aku adalah sepasang sahabat
kecil yang berjanji takkan melepaskan tautan kelingking kita.
.
Tahun semakin menua, begitu pula usia kita yang melesat pada
bilangan yang tak mampu lagi digenapkan oleh jari-jari kita. Ruang kelas yang
angkuh menjelma tabir antara mataku dan matamu. Berlembar kertas menyita
waktuku dan waktumu. Letih pun menggumuli tubuh kita. Namun ada yang tak
berubah. Kau dan aku masih sama, senang melahap langit jingga. Kau membayangkan
puluhan bulatan sunkist, sementara barisan-barisan wortel telah menjajah
kepalaku saban sore. Kau dan aku tetap menjadi sepasang sahabat yang tetap
saling menautkan kelingking.
Senja,
pada sebuah taman. Hujan jatuh pada telapak tangan kita. Sela jemari
kita rapatkan, seolah tak ikhlas serpihan jarum langit itu segera
ditampah oleh bumi. Namun, tetap ada ruang tempatnya menyelinap, segera
melepas kerinduan pada mula segala berasal. Ia jatuh, sebagian
melenting, lalu rebah. Dua pasang bola mata kita menatap
tanpa berkedip. Bahasa kita, diam. Ada yang pelan-pelan menyelinap pada
lobus-lobus hati. Kita terpasung pada mesmerisme senja yang melankolik.
Tangan gaib Tuhan telah mempertemukan kita pada sebuah petang. Dalam bentangan jarak yang tak terjangkau oleh akomodasi kedua lensa bola mata kita. Matahari telah menggantungkan jubah hangatnya, saat aksara demi aksara mempertukarkan kisah kita. Aku sedang patah hati, tulismu. Kekasihku menikah tadi pagi, aduku. Lalu kita terbahak, menertawai betapa sialnya kita. Ah, luka tak selamanya harus ditangisi. Asinnya air mata hanya akan menambah rasa perih. Maka mula petang itu, kita bersepakat menertawakan segala duka. Tak seorang dokter pun yang menyarankan membersihkan luka dengan air garam, itulah premis kebanggaan kita.
Tangan gaib Tuhan kembali memainkan peranan saat gemuruh rasa yang kau pendam perlahan membuka. Kau datang mengadu. Ah bukan, aku yang memaksa bibirmu yang katup untuk bercerita. Kekanakan bukan? Lalu, sebaris kenangan yang pernah kau kubur kembali hadir. Aku diam. Membiarkan kau menuntaskan segalanya. Sebab aku yakin, kurungan-kurungan yang menyesakkan laju oksigen di dadamu akan terlepas bersama jalinan kata yang lahir dari bibirmu, juga ingatan yang mengelupas perlahan dari simpul-simpulsarafmu.
Aku, kau dan sebaris kenang, mewarnai pergantian warna langit yang kita tatap dalam waktu yang berbeda. Aku mampu merasai betapa kau begitu hanyut dalam melankoli mengenangnya. Dan pada langit sore kelabu dimana rinai bergelantungan, kuhadapkan wajah. Menunggu satu-satu tarian anak langit itu menerpa, lalu luruh bersama anak-anak sungai di wajahku. Setelah itu, beri aku waktu untuk mengumpulkan tawa yang berserak. Kemudian, kau dan aku akan kembali mengagungkan premis kita, sebab luka tak selamanya harus ditangisi…
Sekiranya kau ada di sini, duduk bersisian denganku, di sebuah tempat yang hanya kau dan aku yang tahu, tempat kita menatap hujan yang jatuh dalam bayang-bayang purnama, maka akan kau lihat lengan rapuh ini menyandarkan diri dalam kokoh telapak tanganmu. Membiarkan rasa sahaja kasihmu mengaliri setiap vena.
Kupandangi arak-arakan awan yang bergemulung, berat terbawa oleh napas-napas angin. Kelabu menggantung pertanda kehamilan langit makin menua. Dahulu kita bersepakat, kau adalah rahim langit tempat rindu dan mimpi berkondensasi, dan aku adalah rahim bumi yang akan memeluk anak-anak berkulit perak yang lahir darimu. Kita boleh tersekat jarak, namun rindu selalu menemukan jalan untuk bertemu.
Sungguh aku tahu bagaimana dada kita terasa begitu hidup saat mendengarkan atap-atap rumah bertepuk dengan tangan-tangan mungil hujan. Lalu wangi bumi yang terlepas dari kurungan tanah-tanah kering akan berikatan dengan hemoglobin dan tiba ke pokok-pokok ingatan, juga pada degup jantung kita. Petrichor dan Geosmin berpelukan dalam aliran darah, menjadikan hujan adalah kalam rindu yang tak pernah habis terbaca oleh mata yang perlahan merabun.
Kehilangan demi kehilangan telah terbaca dalam jejak-jejak kita, begitupun luka telah tertoreh sempurna dalam nadi hidup kita. Namun, kita takkan menyerah. Anak-anak awan mengajarkan kita ketangguhan. Jatuhnya yang perlahan mengajarkan kita kesabaran. Tak percaya? Lihatlah bagaimana anggunnya gerimis yang jatuh pelan-pelan namun mampu meluruhkan benci, juga emosi jiwa-jiwa yang merasai bulirnya. Pernahkah kita mendengar seseorang membenci gerimis? Tidak. Mereka mencintai gerimis, anak-anak awan yang kecil.
Kita berbeda, kita tak hanya mencintai gerimis, tapi kita menikmati pula anak-anak langit yang terlahir dewasa. Tangis mereka yang begitu garang ditingkahi angin, mengajarkan kita kemauan yang keras. Kemauan untuk menghapus segala duka, menghempas kolase kepedihan, dan membiarkannya hanyut hingga dada kita lapang dan pikir kita lupa akan mereka yang telah menusukkan belati tepat di jantung.
Sekiranya kau ada disini, duduk bersisian denganku, di tempat yang hanya kau dan aku yang tahu, mungkin telingamu akan penuh dengan ceracauku yang tak bosan bercerita tentang segala hal remeh sambil menatapi awan yang pelan-pelan menghela nafas usai melahirkan berjuta anak. Lalu, dua pasang mata kita menatapi angin menggendong tetubuh awan ke atas laut, melihatnya bersetubuh hingga orgasme, kemudian kembali mengandung benih-benih hujan. Sebuah siklus teratur, tanpa jeda, tanpa lelah.
Kini, kita terpasung dalam rentangan waktu dan jarak. Namun, kuyakin kita menatapi rintik hujan yang sama, yang jatuh pelan-pelan dan menjadi tirai bagi jendela kamar kita. Dan pada tetes langit yang kembali dalam peluk bumi, kita belajar tentang kesabaran, tentang ketegaran, bahwa semua hanyalah bagian siklus hidup yang harus kita lalui.
Kepadamu yang mencintai hujan, tengadahlah. Rasakan ketegaran mengaliri dadamu, ketegaran dari anak-anak langit yang berpadu mendentingkan harmoni syahdu.
=================================
>> Kepada mereka yang mencintai hujan, pun gerimis…