Jumat, 08 April 2011

Segitiga Merah Warnanya



“Masuk dan melihat-lihatlah dulu!” kata Andi.
“Kau tidak ikut masuk?” tanyaku.
“Aku tidak berkepentingan. Lagipula, aku tidak mau jika memang bukan untuk keperluanku sendiri, tidak sebanding dengan jengahnya, Bos.”
Aku mengangguk-angguk sambil cengengesan. Di tempat seperti ini, lelaki manapun akan jengah untuk berada di dalamnya, tidak terkecuali aku. Beberapa jam yang lalu aku memang meminta pendapat kepada Andi mengenai masalahku, masalah yang sebenarnya mungkin wajar dalam kehidupan berumah tangga di manapun juga: aku jenuh dengan istriku!
Aku bukan jenuh dengan sikapnya atau ketidakmampuannya menjalankan fungsi sebagai ibu rumah tangga, karena tak bisa kupungkiri betapa besar peranannya dalam kehidupan keluarga kecil kami. Istriku adalah pengurus keluarga yang luar biasa. Tatanan perabot di dalam rumah membuatku serasa berada di istana, ditambah lagi pelayanan yang ikhlas dan sepenuh hati lainnya yang jika tidak dikerjakannya sendiri, niscaya tidak akan pernah beres dengan baik. Dengan kata lain, urusan rumah tangga yang lahir dari tangannya sangat memuaskan.
Hanya satu yang tidak membuatku puas. Kehidupan seks kami!
Hampir enam tahun kami berumah tangga, seorang anak telah kami miliki, tapi selama hampir enam tahun itu benar-benar tidak pernah ada kejutan yang mendebarkan dalam kehidupan seks kami. Terlalu datar dan lurus, seperti jalan aspal baru digilas. Tidak ada variasi-variasi yang bisa membuat seks menjadi hal yang benar-benar dinantikan, sehingga lama kelamaan rasanya pun menjadi hambar . Terutama setelah kami memiliki anak, sulit rasanya untuk menjadi sangat bergairah apalagi merasakan kepuasan, seperti kencing saja: setelah dibuang ya sudah, rasa kebelet hilang.
Andi lalu menyarankan padaku untuk merubah atau membuang sekalian gaya bercinta kami yang dirasanya sudah benar-benar kuno dan langka.
“Hanya di bawah dan di atas? Kau lebih banyak di atas? Dia hanya diam tanpa melakukan apa-apa? Kau tidak membolak-balikkannya seperti dalam gaya pemanggang sate? Kau tidak pernah memutarnya seperti baling-baling? Mendorong gerobak? Memanjat pohon kelapa? Tidak? Waduh, adegan di sinetron Indonesia masih lebih panas dari adegan kalian. Kalian seperti melakukan adegan percintaan dalam film jadul saja kalau begitu, “ ejeknya waktu aku bercerita padanya.
Aku hanya meringis. Tampak berlebihan sekali dia.
“Lalu,” lanjutnya, “Sebelum melakukannya, apa yang kalian lakukan untuk mendongkrak suasana menjadi lebih romantis?”
“Maksudmu?”
“Apa yang kalian lakukan sebelum itu, kau tahu, untuk membangkitkan selera?”
“Biasa saja. Pemanasan biasa yang kadang tidak terlalu lama. Inisiatif selalu datang dariku dan bahkan kadang aku harus membangunkannya jika keinginanku tidak tertahan lagi, karena seringkali dia terlalu cepat tidur.”
“Jadi kalau kau tidak minta, tidak akan ada adegan khusus dewasa di rumah kalian?”
Aku mengangguk.
“Dan pula, tanpa persiapan dan perencanaan? Langsung tancap?”
Aku hanya tersenyum kecut dan mengangguk lagi. Sungguh sebenarnya aku malu untuk menceritakan padanya, tapi jika tidak demikian, aku akan bercerita kepada siapa lagi?
“Durasinya tidak pernah lebih dari setengah jam?” lanjutnya.
Mengangguk.
“Jadi?”
“Ya, begitu saja. Rutin.”
Andi tertawa ngakak.
“Pantas saja kau kelihatan pucat seperti semangka muda yang terpaksa dibelah. Kau pasti lebih banyak menyiram tanaman di halaman rumahmu dibanding menyiram istrimu.”
“Jadi?”
“Jadi?”
“Apa saranmu?”
“Saranku?”
“Ya, aku tidak bercerita banyak hanya untuk kau ejek.”
Andi tertawa lagi.
“Ciptakanlah suasana yang baru, Ndok. Aku serius. Mendengar ceritamu aku justru heran, kenapa salah satu dari kalian belum ada yang mati.”
“Jangkrik!”
“Aku serius. Mungkin di luar kalian tampak bahagia, tapi dengan kehidupan seks yang seperti itu, kalian sedang meretas jalan menuju kehancuran. Dan kehancuran yang seperti ini akan terjadi sangat lambat tanpa kalian sadari. Sekarang akui saja, bukankah kau ingin menikmati bagaimana rasanya bercinta dengan perempuan lain?”
“Ah, kau memang jangkrik! Lagi-lagi jangkrik!”
“Akuilah. Bagaimana pendapatmu tentang Dania? Bukankah dengan melihatnya saja kau sudah terbakar?”
“Aku pikir itu wajar. Semua lelaki di kantor yang melihatnya dengan pakaian seksinya tentu punya khayalan masing-masing.”
“Nah!”
“Nah apa?”
“Pernah membayangkan Dania tidak berbusana?”
Aku menelan ludah. Dania memang seksi, yang terseksi di antara perempuan yang lain di kantor kami. Tapi membayangkannya dengan tanpa busana? Hmm, aku tidak malu-malu lagi, sepertinya memang sering.
“Kenapa tidak ada lelaki yang mengkhayalkan istrinya sendiri? Atau jika pun ada, itu adalah hal yang sangat tidak umum?”
“Entahlah, mungkin karena tidak tega dan tidak patut membayangkan istri sendiri.”
“Tidak tega atau tidak patut? Bukankah membayangkan istri sendiri tidaklah dosa? Bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah, mereka para lelaki itu sudah bosan! Jenuh!”
Andi berhenti dan menyalakan rokoknya dengan dramatis.
“Bertahun-tahun disuguhi sesuatu yang sama setiap hari tentu saja akan bosan. Karena itu, Handoko sahabatku yang baik, untuk mengakalinya hadirkanlah sesuatu yang baru. Mengolah ketela pun tidak hanya direbus atau digoreng, bukan? Bisa dibuat kroket, gethuk atau cimplung.”
“Maksudmu?” tanyaku.
“Buat atau bangunlah suasana yang baru entah itu tempat, gaya atau busana. Sesuatu yang dapat meningkatkan gairah sehingga hubungan suami istri kalian menjadi optimal. Kau sangat mencintai istrimu dan tidak akan beralih ke perempuan lain, bukan?”
“Tentu saja..dosa itu.”
“Tapi kau merasa jenuh dengan hubungan seks kalian?”
“Ya.”
Andi kelihatan bepikir sebentar. Lalu berkata
“Belikanlah pakaian dalam untuk istrimu.”
“Ha?”
“Belikan dia pakaian dalam!”
“Dia terbiasa membelinya sendiri.”
“Sekarang kau yang belikan. Yang kelihatan seksi dan liar atau sesuai dengan seleramu. Percayalah denganku.”
Aku berpikir dan jadi teringat dengan wanita-wanita cantik di majalah atau di film-film yang menggunakan pakaian dalam yang seksi. Mereka selalu menarik buatku dan minimal selalu mampu menggerakkan bagian depan celanaku. Jika istriku mau memakai dan sedikit bemain-main dengannya……wow! pastilah jenuh sudah angkat kaki. Semua itu sebenarnya pernah terlintas dalam kepalaku, tapi karena rasa raguku bahwa istriku akan menurutinya, juga malu, keinginan itu lenyap entah kemana.
“Yang paling utama menurutku sekarang adalah pakaian dalam itu. Tempat dan suasana baru yang perlu dibangun bisa menyusul, gaya yang variatif bisa mengikuti nantinya asalkan tidak ada rasa malu, tapi pakaian dalam sangat mutlak karena bisa meningkatkan daya rangsang secara tepat dan efektif dan menjadi kunci pertama suksesnya hubungan seks. Bayangkan seorang perempuan dengan hanya menggunakan celana dalam saja. Seksi sekali, bukan? Itulah pengaruh magis dari pakaian dalam.”
Hmm..aku langsung membayangkan seorang wanita yang cantik tengah berlari-lari di tepi pantai dengan gerakan lambat diiringi lagu You Make My World So Colourful-nya Daniel Sahuleka…rambutnya yang panjang berkibar tertiup angin laut dan tubuhnya terbuka, sempurna seperti kuda betina yang seksi. Kulitnya yang mulus seakan memantulkan kembali cahaya matahari sore yang telah memantul pula dari air laut menciptakan aura berwarna kekuningan di sekeliling tubuhnya. Lalu tubuh bagian bawahnya itu…….amboi, hanya di tutupi dengan selembar G-String berwarna merah….busyet!
“Berangkat!” teriakku tanpa pikir panjang.
Dan di bagian pakaian dalam di sebuah butik terkenal inilah aku dan Andi sekarang berada.
“Masuklah,” kata Andi lagi.
Dengan perasaan yang jengah aku masuk dengan meninggalkan Andi tetap melihat-lihat di bagian lain. Seorang perempuan berdandanan menor kemudian langsung menyapaku.
“Cari pakaian dalam buat istrinya, Pak?”
“Eh, ya..”
“Beha atau celana dalam?”
“Celana dalam.”
“Mau yang model apa?”
“Kalau bisa yang biasa..eh, paling banyak dibeli.”
Lalu perempuan itu langsung menjelaskan hampir segala jenis dan model celana dalam dari A sampai Z, membuatku baru menyadari bahwa ternyata di dunia ini banyak sekali benda-benda aneh yang bahkan sama sekali tidak tepikirkan bisa dibuat oleh manusia, tapi ternyata ada.
“Bagaimana, Pak?”
“Jelas sekali. Mbak. Tapi yang saya mau hanya satu dan sudah saya tetapkan. Saya mau yang seperti itu,” kataku sambil menunjuk sebuah celana dalam G-String warna merah yang dipajang dan dikenakan oleh sebuah manekin. Harganya minta ampun, untuk sebuah benda kecil seperti itu. Tapi tidak mengapa, ini juga untuk kesenanganku sendiri nantinya.
Sore itu setelah mengantarkan Andi pulang ke rumahnya, aku langsung pulang ke rumah. Sepanjang jalan otakku tidak lepas dari celana dalam yang akan kuberikan pada istriku itu. Membayangkan dia memakainya saja sudah membuat panas dingin badanku.
Oke. Setelah kubungkus dengan kertas kado, akan kuletakkan ini di atas ranjang setelah kuselipkan pula pesan untuknya besok pagi. Aku yakin dia akan segera memakainya sambil mematut dirinya di depan cermin dan dengan tidak sabar menantiku pulang dari kantor. Aku tertawa dalam hati, tapi aliran darah dalam tubuhku telah mulai menghitung mundur, bergejolak.
Panas dingin.
******
Kupandangi lagi kado pemberian suamiku. Tadi aku telah membukanya, namun kuputuskan memasukkannya kembali ke dalam kotaknya. Aku tak pernah menyangka ia akan memberiku kejutan yang demikian. Sungguh benar-benar mengejutkan. Setelah enam tahun kami berumah tangga, baru dua kali ia memberiku hadiah, pertama saat aku hamil anak pertama kami, kedua saat ia mendapat promosi di tempat kerjanya. Dan ini kali ketiga ia memberiku sebuah kejutan.
Hari masih pagi saat kado berbungkus kertas bercorak hati merah jambu itu kutemukan terletak di atas tempat tidur, tepat di tengah. Rupanya suamiku telah dengan sengaja menaruhnya di sana sebelum ia berangkat ke kantor. Disertakannya pula selembar pesan.
Kepada bidadari malamku yang telah menemaniku melalui malam-malam dingin dalam putaran hari.
Penuh cinta,
Handoko.
Mataku kembali menatap kotak pemberian suamiku itu. Otakku masih mencari alasan mengapa ia memberikanku benda ini, benda yang seumur hidupku sebagai perempuan tak pernah sekalipun terlintas di kepalaku akan memilikinya, apalagi mengenakannya. Tanganku kembali mengeluarkan benda itu dari kotaknya, diikuti jemariku yang kemudian menyusuri tiap bagian-bagiannya. Ada perasaan aneh menjalariku, antara merinding dan risih, entah. Lalu, kalimat demi kalimat yang pernah terekam pita ingatanku mulai berlompatan.
“Hati-hati jika suami kita sudah memberi benda-benda aneh pada kita,” ujar Bu Mirna, tetanggaku, saat kami mengikuti arisan ibu-ibu di kompleks perumahan tempatku tinggal.
Namanya ibu-ibu, maka obrolan tidak akan jauh seputar infotainment, perhiasan, urusan anak, menggunjingkan tetangga, dan urusan kamar. Seperti juga hari itu, entah mengapa tiba-tiba obrolan berputar pada tingkah para suami. Aku yang merasa suamiku baik-baik saja, mengambil posisi yang paling aman, menjadi pendengar yang sangat setia.
“Loh, benda aneh kaya mana sih, Jeng?” Bu Tirta yang terkenal tak pernah mau ketinggalan gosip seputar kompleks menunjukkan wajah antusias. Ia begitu mudah terpancing dengan bahasan-bahasan yang sensitif.
“Yah..benda aneh…eum..misalnya…pakaian dalam.”
Ibu-ibu yang ada di sekitar Bu Mirna memasang ekspresi berbeda.
“Katanya sih, kalo suami sudah mulai ngasih pakaian dalam ke istri, artinya dia sudah mulai bosan sama istrinya, bosan dengan gaya itu-itu saja, pengen variasi, improvisasi, yang lebih liar…” kalimat lanjutan dari Bu Mirna tak kumasukkan lagi ke gendang telingaku, toh suamiku tak pernah protes, tak pernah meminta yang lebih.
Kehidupan seks antara aku dan Mas Handoko berjalan normal sejak kami mulai terikat dalam ikatan perkawinan, ia menjalankan perannya dengan baik sebagai seorang suami, dan aku pun berlaku layaknya seorang istri yang manut pada suami. Mas Handoko tak pernah meminta perubahan apapun dalam aktivitas percintaan kami. Jangankan variasi, mengeluhpun ia tak pernah. Kesimpulannya, kami bahagia. Apalagi setelah kehadiran anak kami, maka kebahagiaan itu lengkaplah sudah.
“Wah… Jeng Ratri kok ga ikutan nimbrung, sih?” pertanyaan Bu Tirta diikuti lirikan beberapa pasang mata ibu-ibu yang sedari tadi asyik dan lupa bahwa aku pun ada di antara mereka.
“Pasti Jeng Ratri sama suami masih hot di ranjang, jadi hanya senyam senyum mendengarkan omongan kita,” sambar seorang ibu yang wajahnya baru sekali ini kulihat.
“Ah… nggak juga kok, Bu. Biasa saja.”
“Biasa saja gimana, Jeng?”
“Yah..biasa saja…seperti ibu-ibu yang lain.”
“Waah…masih pake gaya monoton? Kirain anak muda sekarang mah udah make apa tadi kata jeung Mirna..intro…introvasi”.
Ledakan tawa mengiringi kalimat yang barus saja putus dari kalimat ibu tadi.
“Ehem…” deheman Bu Mirna menarik perhatian.
“Justru sekarang yang muda yang harus hati-hati, laki-laki sekarang lebih ganjen dan jelalatan dibanding laki-laki jaman dulu. Fantasi mereka lebih liar, apalagi kalo udah liat cewek seksi, kita istrinya pasti lewaaat.”
“Jadi harus pinter-pinter narik perhatian suami dong, Jeng.”
“Iyalah…biar nggak kalah saing sama yang muda-muda.”
“Caranya…?”
“Dengan ini…” Bu Mirna mengeluarkan sebuah katalog yang menjual aneka pakaian dalam perempuan. Segala model, corak dan warna tergaleri melalui tubuh-tubuh mulus perempuan dalam majalah itu. Mata-mata penasaran segera mengikuti gerak tangan Ibu Mirna.
“Dan model ini yang paling hot…” tunjuk Bu Mirna pada sebuah pakaian dalam yang modelnya setali.
“Ini namanya G-string…pasti bikin suami panas dingin,” sambungnya yang diikuti cekikikan ibu-ibu yang lain, cekikikan yang membuatku risih.
Obrolan beberapa bulan lalu itu masih sempurna tersave dalam pita ingatanku. Dan sekarang, di kamar ini, dengan matahari yang masih sepenggalah, kuamati kembali pemberian suamiku yang kini telah sempurna kuletakkan di hadapanku. Ah, perasaan itu belum hilang. Aku masih bergidik membayangkan diriku mengenakannya. Tak kukira G-string yang beberapa bulan lalu hanya kulihat di majalah Bu Mirna, kini telah nyata ada di depan mataku.
Bisa kubayangkan betapa tak nyamannya diriku saat mengenakan G-string ini. Dengan bentuk yang hanya setali dan serba minim hanya akan membuatnya terselip diantara bokongku, dan akan menambah daftar ketaknyamanan yang kurasa di luar rasa risih yang telah membukit. Aih… beragam pertanyaan mulai beradu di kepalaku.
Telah bosankah mas Handoko padaku? Apakah aku tak menarik lagi di matanya hingga ia membelikanku G-string berwarna merah untuk membangkitkan kelelakiannya, meningkatkan adrenalinnya? Tak mengertikah ia jika aku risih mengenakan pakaian-pakaian minim di depannya selain pakaian tidur tipis yang biasa aku kenakan? Haruskah aku bertindak seperti pelacur di depan suamiku sendiri? Melakukan hal yang selama ini kuanggap tak biasa?
Aarrgh…
Bukannya aku tak tahu kewajiban seorang istri yang harus selalu tampak menarik di hadapan suaminya. Semua sudah kulakukan. Menjaga kebersihan diri, menghindari makanan yang menimbulkan bau tak sedap dan bisa membuatnya tidak berkenan, berdandan, dan senantiasa mewangikan diri. Tapi, jika harus mengenakan G-string dengan warna mencolok itu…
“Nduk, jadi istri itu harus manut mau suami. Dia bilang kiri, kamu ikut ke kiri. Dia bilang kanan, yo wis kamu juga ikut ke kanan. Bahkan dalam urusan suami-istri juga begitu. Apa mau suami, sebisa mungkin kamu turuti. Jadi pahala, Nduk.” Nasehat si Mbok mengiang kembali.
Tanganku menimang-nimang pemberian suamiku itu. Perasaan risih dan nasehat si Mbok bergantian beradu di kepalaku. Setelah lama, kuputuskan membawa G-string itu ke kamar mandi. Mencucinya. Meskipun baru terbeli dari toko, tetap saja tak ada jaminan ia bersih. Apakah akan kukenakan nanti malam atau tidak, itu urusan nanti. Yang aku tahu G-string merah itu sebentar lagi akan tergantung manis di jemuran belakang rumah. Tersembunyi dari pandangan orang-orang.
*****
Sedari pagi tadi aku benar-benar tidak tahan. Bagaimana juga caranya agar bisa tertahan? Pikiranku melayang tidak karuan. Ah, tidak ada cara lain selain merapatkan selakanganku, berlama-lama duduk dan fokus dengan pekerjaan. Jangan sampai aku berdiri apalagi wira-wiri, karena kondisi sudah tak terkendali. Di area celanaku, bagian vital sudah menonjol tinggi. Karena.. aagghhrr, aku ingin cepat pulang!
Keadaan semakin parah ketika Anis, teman kerjaku, datang. Dia terus bolak-balik melewati meja kerjaku dengan beberapa lembar kertas laporan. Entah Anis punya urusan apa dengan Pak Bos yang ruang kerjanya tepat di sebelah meja kerjaku. Tapi kelakuannya itu membuatku apes. Sudah empat kali Anis mondar-mandir, empat kali pula aku mengamati lenggak-lenggok pinggulnya dan goyang pantatnya yang terbalut busana kerja masa kini. Seksi! Badanku panas dingin, selangkangan makin kurapatkan.
Isi kepalaku telah dibuat kewalahan oleh sikap Anis hari ini. Otak primataku terus menebak bentuk maupun warna di balik rok mininya. Celana dalam warna putihkah? Tidak, pasti merah! Iya, merah. Aku yakin merah. Berenda motif bunga, mungkin tipis. Jika tebakanku benar, pasti celana dalamnya akan terlihat dinamis, bergoyang ritmis mengikuti irama pantat padatnya Anis. Andai saja aku bisa melihatnya… Duh!
“Sudahlah, Nis, jangan bolak-balik terus!” batinku.
Semakin aku membatin, goyang tubuh Anis malah menjadi-jadi. Kelelakianku sontak tegang, seperti tentara gagah yang tegap berdiri. Dingin AC tak mampu mengendalikan laju keringatku. Aku tidak tahan! Konsentrasiku buyar, pekerjaan langsung kutinggalkan. Keluar, biar aman. Aku lalu duduk santai di loby kantor sambil berharap hati dan pikiran bisa sedikit tenang.
Ternyata tidak. Sesampai di loby pun gambar celana dalam masih saja terbayang. Kali ini bukan milik Anis tapi Windi, ibu muda satu anak yang bertugas sebagai costumer service.
“Celana dalam sialan! Celana dalam sialan! Celana dalam sialan! Awas kau, malam ini akan kuhajar. Akan kuciumi kau habis-habisan!” dendam batinku.
Makanya, tanpa ba-bi-bu, tadi sore aku segera pulang. Tidak menyapa Anis seperti hari-hari biasanya, tidak juga mampir ngopi, pokoknya langsung pulang. Penyebabnya hanya satu: celana dalam.
Aku sendiri heran, dari kecil aku sudah sangat mengenal wujud dan fungsinya, namun sekali pun aku tidak pernah bercita-cita apalagi terobsesi bercinta karena celana dalam. Ironis. Ah, bukan.
Memang benar, celana dalam berkaitan erat dengan kemaluan. Sesuatu yang memalukan bila dibicarakan. Beberapa orang menggunakan istilahnya sebagai bahan candaan yang cenderung melecehkan, hinaan, kadang umpatan bila emosi mereka spontan memerlukan. Bagiku tidak demikian, dewasa ini aku baru mengerti. Banyak yang menganggap celana dalam itu barang remeh-temeh karena selalu diletakkan di lapis paling dalam, paling disembunyikan. Justru posisi itulah yang menjadikan celana dalam begitu penting, begitu hebat membuat hati penasaran. Bukankankah sepatutnya kehebatan tidak perlu ditonjolkan? Tentu seperti punya Anis yang selalu membuat gairahku meninggi. Apalagi ditutupi bajunya yang seksi, imajinasiku tentu semakin menjadi. Oh..
Aku percaya, semua barang yang bernyawa atau tidak, memiliki nilai seni. Antik. Semua menyimpan rasa yang patut dinikmati. Termasuk celana dalam. Untuk satu celana dalam ternyata menyimpan berjuta fantasi dan mampu membangkitkan andrenalin yang tersembunyi. Layak disebut seni, bentuk karya nyata dan bisa dinikmati rasa. Apalagi yang menggunakannya adalah wanita, wih! Bila aku bisa mendapatkan celana dalam mereka, akan menjadi kebahagiaan tersendiri dan harus kunikmati sendiri. Dari situlah kejantananku bekerja, libidoku akan berfungsi sempurna. Nikmat rasanya. Kenikmatan ini mungkin bisa jadi obsesi tiap hari. Apalagi hampir tiap hari aku bertemu Anis. Dialah pemicu nafsuku, gairah seniku. Karena dia juga, malam ini aksiku harus kuulangi lagi.
Aku rela mengendap-endap, hati-hati berkeliling antar jemuran . Memastikan rumah yang akan menjadi targetku tidak jauh dari tempatku tinggal, minimal beda satu-dua gang, penghuninya harus tidak mengenaliku, begitu juga sebaliknya.
Tadi sore sepulang kerja sudah kuamati wanita-wanita daerah sekitarku ini. Sekedar memeriksa jemuran mereka jika saja ada celana dalam yang layak untuk kumiliki. Berharap kiranya ada satu atau dua celana dalam tergantung menggiurkan. Ternyata ada, ya, di jemuran ini. Entahlah ini jemuran rumah siapa, yang jelas dari sore tempat ini sudah kupastikan sebagai sasaran aksi. Dan malam ini adalah malam yang paling mengejutkan dan membahagiakan. Dendamku sedari pagi mulus terlaksana, bahkan bisa dibilang aksi paling gemilang.
Kutemukan sepotong G-string merah! Wow, mengejutkan sekali. Selama berburu, belum pernah aku dapat G-string. Padahal inilah buruan yang paling kudamba. Unik bentuknya, susah mendapatkannya, bila kucium fantasiku bisa tiga kali lipat lebih sempurna dari biasanya. Hampir bosan aku berburu celana dalam yang bentuknya itu-itu saja. Maklum, aku tinggal di daerah biasa, berpenghuni manusia-manusia daerah biasa pula. Aku yakin, jarang dari mereka yang mengenal celana dalam bertipe luar biasa, bahkan bisa aku pastikan tidak ada. Celana mereka berbentuk serba biasa, minimal berenda pinggirannya, motif bunga. Jika beruntung, bisa kudapatkan yang bergambar unik, biasanya milik gadis remaja. Misal, gambar lambang cinta yang terletak tepat di bagian depan, lurus dengan organ vital. Tapi itu jarang.
Oh, G-stringnya masih basah, pun sama dengan kejantananku tiba-tiba. Puitis sekali…
Sekarang pulang saja, temuan G-string ini sudah lebih dari cukup. Segera aku bergegas pergi, namun tiba-tiba ada yang membuka jendela. Sigap, aku segera tiarap. Merangkak dan berlindung di balik tumpukan batu bata beberapa meter dari sana. Sialan! Aku terpaksa tetap dalam posisiku karena jika aku bergerak sedikit saja, cahaya lampu kamar akan menerangiku dan seseorang bisa saja memergokiku.
“Hilang!” kudengar suara seorang wanita. Sepertinya dia telah tahu bahwa salah satu barangnya telah kuamankan, G-string yang menggiurkan ini. Fiuh..untung aku lebih cepat beberapa detik daripada dia.
“Hilang bagaimana?” seorang lelaki bersuara pula.
“Sumpah, tadi kucuci dan kujemur, Mas. Sekarang sudah tidak ada. Padahal setengah jam yang lalu aku masih melihatnya di sana.“
“Bukannya kau buang?”
Sunyi. Lalu sosok lelaki yang tadi hanya terdengar suaranya itu muncul di jendela sambil membuang puntung rokok dan berdiri di sana seperti memandang ke arah persembunyianku.
Dengan tegang aku makin merapatkan tubuhku, akrab dengan kegelapan, berusaha menghindari sebisa mungkin jangkauan cahaya lampu kamar itu.
“Kenapa juga aku harus membuangnya?” kudengar suara wanita itu lagi.
“Bisa saja. Mungkin karena kau tidak suka,” jawab lelaki itu sambil berbalik, kini dia masih di sana tapi dengan punggung menghadap ke luar, ke arahku.
“Aku tidak membuangnya.”
“Lalu kenapa sekarang tidak ada?”
“Pasti ada yang mengambilnya.”
“Tidak mungkin. Kau pasti sudah membuangnya.”
Diam di antara mereka. Hanya kurasakan aroma pertengkaran suami istri yang bakal terjadi. Aku tertawa saja dalam hati, malah semakin ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Kau bisa katakan terus terang kalau tidak suka, tidak usah dengan cara begini. Mencari-cari alasan.”
“Aku sudah bilang, Mas, aku tidak membuangnya. Ya, mungkin aku memang merasa risih dan kurang senang dengan apa yang Mas berikan itu, tapi tidak ada sama sekali niatan untuk membuangnya. Aku justru sedang memikirkan untuk memakainya malam ini, karena itu kan yang Mas mau?”
Kudengar lelaki itu mendengus dan berbalik sambil menutup jendela dengan kasar, sementara lamat-lamat kudengar wanita itu mulai terisak-isak. Tak terdengar jelas apa yang kemudian mereka bicarakan, yang jelas, sepertinya akan terjadi pertengkaran yang hebat atau minimal akan ada kebisuan yang lama, aksi saling diam di antara mereka berdua. Hubungan yang memburuk antara suami istri. Atau ada lagi yang lebih buruk yang dapat terjadi? Banyak!
Ah, asal keberadaanku ini tidak diketahui, masa bodohlah dengan mereka! Lebih baik aku pergi sekarang. Pulang. Mengendap-endap. Hati-hati sekali.
Aku tertawa lagi dalam hati. Semua akibat segitiga merah warnanya ini. Betapa lucunya! []

--------------------------------------
Tulisan kolaborasi bersama Aris Kurniawan dan Naim Ali...
Gambar hasil tangan Naim Ali...

Air Mata Ijab Qabul




Jum’at yang penuh berkah…
Akhirnya aku duduk di ruangan ini. Ruang yang telah dipenuhi berbagai riasan berwarna warni. Anyaman janur terpasang di beberapa sudut ruangan, permadani telah dihampar menutupi kotak-kotak hijau di lantai, tatanan kue-kue dalam bosara’ bersanding dengan piring-sendok-garpu kecil, dan lamming yang menghadap tepat di depan pintu masuk menguatkan kesan bahwa ruang ini siap menjadi saksi atas hari sakral dua orang manusia.
Seorang lelaki berpakaian adat duduk tepat di depan lamming diapit dua orang lelaki berpakaian batik dan gamis putih di samping kiri dan kanannya. Dua orang lelaki berjas duduk di hadapannya. Lantunan musik nasyid dengan volume rendah mengiringi dengungan suara-suara yang saling berbisik atau menyapa. Lelaki itu tampak tenang. Mungkin ia sedang menghitung laju detik yang sebentar lagi tiba di angka sepuluh, atau bisa juga ia sedang menghapalkan kalimat-kalimat yang akan diucapkannya di hadapan semua orang di ruangan ini. Mataku tak lepas menatapnya.
Lagu nasyid dimatikan, suara-suara satu-satu padam berganti hening. Seorang lelaki berumur enam puluhan memegang microphone menyampaikan beberapa kalimat pembuka. Akad nikah segera dimulai. Lelaki berpakaian adat itu menarik nafas perlahan. Lelaki tua di hadapannya mulai mengucapkan ijab. Beberapa saat kemudian lelaki itu pun melafadzkan qabul. Ingatanku pun melayang entah kemana.
***
“Sayang, bersediakah kau kelak menikah denganku?”
“Mmhhh…”
“Kok jawabannya kaya gitu?”
“Bingung”
“Bingung kenapa?”
“Bingung denganmu.”
“Ada apa denganku?”
“Kita sudah pacaran lima tahun dan kau masih menanyakan hal itu..”
“Aku hanya ingin tahu”
“Dan sekarang sudah tahu jawabannya?”
“Sepertinya iya”
“Baguslah”
“……”
“Oya, tapi kamu harus memenuhi sebuah persyaratan jika ingin menikahiku”
“Apa?”
“Latihan ijab qabul mulai sekarang.”
“Lho…? Kenapa..?”
“Biar nanti lancar. Kata orang, kalo ngucapinnya cuma sekali dan ga tersendat-sendat artinya si lelaki beneran cinta ma si perempuan. Sekarang, kamu cinta ga sama aku?”
“Cinta”
“Ya sudah, nanti aku lihat buktinya saat harinya tiba.”
“Baik…kelak kau akan mendengarkannya, sayang. Hanya sekali terucap dari bibirku…”
***
“Saya terima nikahnya Azizah binti Muhammad Rasyid dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan seperangkat alat shalat, tunai karena Allah Ta’ala.” Sempurna kalimat itu terucap hanya dalam sekali hela nafas. Sah sudah lelaki itu menjadi seorang imam. Tangis haru mengiringi do’a yang dipanjatkan bersama. Setitik air mata jatuh di telapak tanganku.
Usai berdo’a, mataku kembali menatap lelaki itu. Harusnya namaku yang tadi terucap, Raisyah binti Mahmuddin, bukan Azizah binti Muhammad Rasyid. 

------------------------
Gambar dari sini

Minggu, 20 Februari 2011

Tasbih Dedaunan Hijau


Apalagi yang harus kami risaukan, segalanya telah nampak sempurna di mata kami yang sederhana. Tubuh-tubuh lemah kami yang begitu mudah meliuk mengikuti hembusan nafas bayu adalah satu dari sekian banyak bukti cintaMu. Tak ada alasan buat kami mendustakan semua itu.
Kami telah menjadi saksi segala peristiwa. Kabut yang menyelinap memeluk kala pagi pelan-pelan merangkak di balik bukit. Embun senantiasa berguliran riang saling berkejaran menggelitik tubuh-tubuh kami. Jemari pagi setia menyematkan surya di birunya langit, menjadikan awal hari seolah gadis berkerudung biru dengan bros kuning keemasan.
Apalagi yang harus kami sangsikan. Dalam tubuh kecil kami telah Kau titipkan anugerah yang begitu besar tak terhingga. Epidermis sebagai tameng pelindung kami, klorofil  menjauhkan kami akan ketakutan pada rasa lapar, xylem dan floem yang begitu telaten menghantarkan air dan makanan pada tubuh tempat kami bertumpu, belulang menyirip dan menjari mengokohkan bentuk kami, dan jika musim semi tiba maka bermekaranlah kuntum-kuntum bunga yang menularkan indahnya pada kami.
Tak sedikitpun ragu terbetik di hati kami atas segala rencanaMu, bahkan ketika jemari kanak-kanak berseragam putih-biru memetik kami, menjauhkan kami dari dahan dan ranting tempat kami saling berpelukan, lalu menyayat kami tipis-tipis. Tak ada keluh yang lahir dari bibir kami kala sayatan tubuh kami berpindah ke atas objeck glass dan tertutupi oleh aquadest dan kaca penutup. Bukankah dengan semua pengorbanan itu, kami mampu menjadi satu bukti kuasaMu. Saat mata-mata bulat memandangi kami dari balik lensa okuler, menggambar, lalu mencari tahu bagian-bagian tubuh kami yang tampak pada layar pandang mereka. Itu adalah satu rencana terindahMu, menjadikan kami perantara ilmuMu yang maha luas. Lalu, adakah alasan yang rasional untuk kami meragukan Engkau? Tidak.
Kami memang lemah, tak mampu melawan hembusan bayu yang paling sepoi sekalipun. Tak sanggup berteriak mengancam apalagi melawan atas jemari yang mencabuti kami tanpa belas kasih. Hanya mampu pasrah kala warna kuning mulai menjalari tubuh kami, yah warna  yang menjadi pertanda bahwa waktu kami akan segera berakhir. Namun, tak ada yang kami sesali akan semua itu sebab kelemahan kami itulah yang menjadikan kami berbeda dengan mereka, para manusia yang kadang tak berhati pada sesama mereka. Kami takkan menceritakan bagaimana sikap mereka, sebab Engkau Maha Mengetahui. Yang terpenting bagi kami adalah mampu menyebut namaMu di tiap anggukan kala subuh dan petang,  di tengah semilir angin yang menggesekkan tubuh-tubuh kami. Melafazkan Subhanallah… Alhamdulillah… Allahu Akbar… hingga tiba waktu kami kembali dipeluk bumi.

Nasi Bungkus Nabi



Ma’mar berjalan tergesa. Kresek hitam di tangannya tak sabar ingin segera diperlihatkannya pada anak dan istrinya. Aroma nasi padang menyelinap diantara lipatan pembungkus nasi berwarna kecoklatan, merangsang kelenjar hipothalamusnya menyampaikan impuls rasa lapar.
“Sebentar lagi,” pikirnya sambil mempercepat ayunan langkahnya. Becek bekas hujan semalam bertengger di belakang celana dan bajunya, terikut bersama kecipak sandal jepit yang naik turun mengikuti langkah Ma’mar.
Hari ini Ma’mar senang bukan kepalang, penghasilannya dari mengecat rumah Haji Aris dilebihkan dari kesepakatan semula. Mungkin karena Haji Aris puas melihat hasil kerjanya yang rapih dan tidak meninggalkan sisa cat yang belepotan atau efek setelah ngobrol dengan Ma’mar kemarin.
“Mar, dengar-dengar istrimu hamil lagi ya?”
“Iya, Pak Aji.”
“Wah, bagus tuh Mar, artinya bakal dapat rejeki lagi kau.”
“Hehe.”
“Kok nyengir? Anak itu rejeki, Mar. Banyak anak banyak rejeki”
“Kalo orang seperti pak Aji sih bisa bilang banyak anak banyak rejeki, saya ini hidupnya susah pak Aji, nambah anak sama dengan nambah susah.”
“Hush…ga boleh ngomong gitu. Banyak orang yang kaya, tapi ga punya anak. Mereka malah uring-uringan, bahkan ada yang selingkuh, nyakitin hati istrinya.”
“Iya juga ya, Pak Aji”
“Ya iyalah… makanya kau dikasih anak itu bersyukur. Bikin anak itu ga gampang. Butuh dipercaya dulu ma Allah. Biar usaha bagaimana kerasnya kalo ga ada kepercayaan dari Dia ga bakal jadi, Mar.”
“Hehe, artinya saya dipercaya ma Allah ya, Pak Aji.”
“Ho-oh”
“Alhamdulillah. Kalo begitu ongkos saya ngecet rumah Pak Aji mau saya beliin nasi padang besok. Biar sekali-kali Nisa makan yang enak-enak, supaya bakal anak saya juga sehat, biar dibilang ga nyia-nyiain rejeki dari Allah.”
Haji Aris hanya bisa tersenyum simpul mendengar penuturan polos dari Ma’mar. Makanan enak tidak selamanya sehat, dan makanan sehat tidak selamanya harus yang enak-enak seperti di warung-warung. Tapi, pilihan Ma’mar akan nasi padang adalah pilihan yang pas, enak dan sehat bagi mereka yang tidak mengidap penyakit darah tinggi dan kolesterol seperti Haji Aris.
Pagi ini saat menghitung penghasilan yang diberikan Haji Aris, Ma’mar heran menghitung lembaran uang yang ada di tangannya, lebih tiga puluh ribu dari jumlah seharusnya. Dialihkannya pandangannya dari lembaran sepuluh ribuan ke wajah Haji Aris.
“Sudah, anggap saja itu rejeki bakal anak kau,” Haji Aris seolah mengerti makna tatapan Ma’mar. Ma’mar segera pamit setelah mencium tangan kanan Haji Aris. Tujuannya sudah jelas, warung nasi padang Uni Sarifah.
Di warung nasi itu, Ma’mar memesan dua bungkus nasi padang. Satu berlauk ayam balado, dan yang satu berlauk rendang dan telur yang dibagi dua. Cukup dua bungkus untuk dinikmati oleh mereka berempat. Sebungkus untuk Ma’mar berdua dengan Nisa, istrinya. Sebungkus lagi buat kedua anaknya, Arif dan Reni.
Ma’mar tahu sebungkus itu tak akan mengenyangkan jika dinikmati berdua, apalagi untuk kedua anaknya. Tapi itu sudah diantisipasinya. Sengaja rendang dan telur buat anaknya dibagi dua, agar nanti di rumah mudah membagikan sebungkus nasi itu dalam dua piring berbeda yang kemudian akan ditambahkan lagi dengan nasi putih masakan istrinya. Sementara untuk dia, cukuplah dia mencicip sedikit menemani istrinya. Toh dia lelaki, bisa menahan lapar demi anak-istri yang dicintainya.
Ma’mar lalu teringat cerita ustadz yang mengisi pengajian di mesjid kampungnya kalau Rasulullah sendiri pernah mengikatkan kerikil di pinggangnya untuk menghalau rasa lapar. Begitu cintanya beliau pada umatnya sehingga tak ingin membebani para sahabat untuk mencarikan beliau makanan, bahkan beliau berujar “Tidak para sahabatku. Aku tahu, kalian akan selalu berkorban demi Rasulmu. Tetapi, apa jawabanku nanti dihadapan Allah, apabila aku sebagai pemimpin malah menjadi beban bagi umatnya? Biarlah rasa lapar ini sebagai hadiah dari Allah buatku, agar kelak umatku tak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih-lebih di akhirat nanti.” Menetes air mata Ma’mar medengar cerita itu. Rasulullah rela berkorban agar umatnya tak kelaparan di dunia dan akhirat, maka ia pun rela berkorban agar anak istrinya tidak kelaparan. Ia akan bekerja sekuat tenaga demi keluarga kecilnya, apalagi sebentar lagi anggota keluarganya akan bertambah, tulangnya harus lebih kuat dari gatot kaca.
Ma’mar sudah berada di depan gang menuju rumah yang telah dikontraknya selama tiga tahun. Dilihatnya Arif dan Reni sedang bermain di depan rumah. Terbayang di pelupuknya wajah kedua anaknya itu begitu bersemangat menikmati nasi bungkus yang di bawanya. Langkah Ma’mar makin cepat. Kecipak sandal jepit bututnya pun terdengar sahut menyahut.
“Rif…Ren…ayo masuk, bapak bawa nasi bungkus buat kalian.” Kedua anak itu pun segera mengikuti langkah Ma’mar ke dalam rumah. Di dalam rumah, Nisa baru saja menaikkan wajan untuk menggoreng ikan asin untuk lauk makan siang mereka.
“Ga usah menggoreng ikan asin, abang bawa nasi bungkus buatmu dan anak-anak.”
“Tapi kan cuma dua bungkus, Bang. Biarlah buat anak-anak saja.”
“Semua sudah abang atur, insya Allah dua bungkus akan cukup buat kita berempat. Lagipula sudah lama kita tidak makan sebungkus eh sepiring berdua.” Merona wajah Nisa mendengar ucapan Ma’mar.
“Ambillah piring dan nasi, yang perlu kita tambahkan cuma nasi di tiap bungkusan nasi itu.”
Duduklah mereka berempat dengan dua bungkus nasi dan sepiring nasi putih yang masih mengepul di depan mereka. Bungkusan pertama dibuka Ma’mar, kemudian dibaginya isinya pada kedua anaknya. Masing-masing mendapatkan setengah porsi nasi, sepotong rendang dan telur. Nisa kemudian menambahkan nasi putih pada piring Arif dan Reni, menggenapkannya menjadi seporsi. Tak lama, keduanya lahap menikmati makan siang istimewa hari itu.
Bungkusan keduapun di buka oleh Ma’mar. Aroma gulai daun singkong dan ayam balado menusuk-nusuk hidungnya. Dilihatnya Nisa tersenyum. Pasti sudah lama lidah istrinya tidak mengecap makanan seenak ini. Sebentar lagi mereka akan menikmatinya sambil mengingat romantisme saat mereka pacaran dulu. Tangan Ma’mar telah bersiap memindahkan nasi ke piring saat tiba-tiba bunyi bola menghantam pintu rumah mereka.
“Arif…Arif… main bola yuk,” Dhani dan Naim berteriak di depan pintu. Ma’mar menghampiri dua bersaudara itu. Dua bersaudara yang telah tiga tahun menjadi yatim piatu dan kini dibesarkan oleh Roni, paman mereka yang bekerja sebagai pemulung.
“Arif masih makan, main bolanya sebentar ya,” ujar Ma’mar sambil mengusap kepala Dhani, sementara kepala Naim dilihatnya melongok ke dalam. Pasti aroma nasi padang itu menyentil hidung Naim yang masih belepotan ingus. Ma’mar paham betul bahasa tubuh anak itu.
“Kalian sudah makan siang?” Naim dan Dhani saling berpandangan, kemudian menggeleng. “Ya sudah, sini kalian makan bareng Arif dan Reni.” Tanpa menunggu disuruh dua kali, Dhani dan Naim segera mengambil posisi duduk tepat di samping Arif. Mata Ma’mar memberi kode pada Nisa. Dua buah piring telah ada di hadapan Naim dan Dhani, berikutnya tangan Nisa membagi sebungkus nasi bagiannya pada kedua anak itu. Senyum tulus terpancar dari wajahnya. Nisa kemudian meninggalkan keempat anak itu, didekatinya suaminya yang masih berdiri di pintu.
“Maafkan abang, harusnya abang tadi beli tiga bungkus.”
“Ga pa pa, Bang. Ini sudah rejeki mereka, bukan rejeki Nisa.”
“Ah… itu kan buat kau dan bakal anak kita.”
“Sudahlah, Bang. Anggap aja kita ini niru sikapnya Nabi. Nabi kan juga sayang sama anak yatim. Jadi nasi bungkus itu, nasi bungkus nabi.” Ma’mar tersenyum mendengar kalimat istrinya. Dicubitnya hidung istrinya.
“Kita masih punya ikan asin, kan?” Nisa mengangguk. Detik berikutnya, wangi ikan asin memenuhi rumah kecil Ma’mar.
=========================================

Nasi bungkus merayakan maulid Nabi Muhammad SAW.

Surat Cinta Terakhir


: Kepada Pengagum Hujan

Kepadamu akan kuceritakan, entah mengapa malam ini aku sangat membenci hujan. Tetesnya bukan lagi serupa embun peneduh. Ia telah menjelma pecahan beling. Semakin deras curahnya, semakin perih hati yang basah olehnya. Hal yang dulu begitu kucinta telah menjelma tarian duka.

Hujan menyuburkan ingatan kita. Membawa rasa mengalir ke muara, cinta. Mempertemukan jiwa-jiwa yang saling mencari. Hujan pun selalu meliuk indah dalam desah-desah pengharapan. Dengan melihatnya, merasai tetesnya maka kita akan menjelma peri yang sedang mengabarkan aroma cinta. Hujan menyihir kau dan aku. Kita begitu senang menikmati gerimis dan berlomba menghitung kawah-kawah kecil yang lahir. Menatap langit yang menjadi rahim, menyesapi anak-anak langit yang pelan-pelan menderas, berenang bersama alirannya, dan mengikuti kemana mereka akan berkumpul menciptakan genangan. Lalu, di genangan itulah kita berendam, menitipkan segala kenangan juga ingatan. Lihatlah, ingatan yang mengelupas, kenangan yang luruh larut meresap ke dalam perut bumi. Ingatan dan kenangan menjadi abadi, takkan pernah kurang.

“Hujan itu bersiklus, dan apa yang telah kita titipkan padanya mengikuti siklus itu,” ujarmu. Dan aku begitu benci mengakui bahwa itu benar. Kenangan dan ingatan yang kita sertakan dalam aliran hujan akan ikut menguap, berkondensasi, menggantung pada mendung, lalu..tik…tik..tik… jatuh kembali menyapa tubuh kita. Titik-titik langit itu begitu ajaib menyegarkan kembali slide-slide yang telah berdebu. Itu satu alasan hujan dan ingatan ibarat magnet dengan kutub yang berlawanan, saling mencari, saling mengikat.

“Mari kita menitipkan mimpi kita pada hujan,” kau menggenggam jemariku. Kitapun merapalkan mimpi dalam hati dan mengikutkannya dalam aliran yang menggelitik telapak kaki. Berhasil, mimpi-mimpi itu lesak ke pori-pori bumi. “Suatu saat, mimpi kita akan menyatu dalam siklus hujan, saling bertemu. Dan saat itu kau dan aku pasti bersama”.

Hujan tak ingkar janji. Malam ini dibawanya mimpi kita. Dijatuhkannya pelan. Bukan sypmhoni bahagia yang tiba di telingaku. Sebuah denting sendu mengabarkan mimpimu yang layu. Kau kini menggenggam tangan yang lain. Lihat, tangan ini kembali tengadah, mencoba mencari serpih mimpi yang dulu kau titip. Sia-sia. Mimpi kita tak berkawan lagi. Saat yang kau janjikan tak pernah ada.

Kepadamu kuceritakan, malam ini benciku tumbuh kepada hujan. Ia tak bosan mengingatkanku tentangmu. Di sini, aku masih harus mengingati semua hal lalu yang tak bosan mengusik dalam tiap bulir langit itu. Sementara aku tahu, di sana kaupun sedang menitipkan kenangan baru bersama orang lain, dia. 

Aku benci hujan! Tolong, berhentilah menengadahkan tanganmu pada langit. Berhentilah memanggil hujan. Sebab jika ia curah, aku akan kembali mengingatimu. Dan aku benci itu. Sungguh benci. 

>> Surat cinta itu pun ada disini