Senin, 20 Desember 2010

Luka Tiga Hati

Adzan Isya berkumandang, menembus dinding-dinding yang saling merapat di pemukiman padat penduduk ini. Lena mengintip di balik kerai, mencoba mencari bayangan suaminya. Sia-sia. Kali ini dibiarkannya kerai terbuka lalu menghampiri kedua putri kembarnya yang sibuk menggambar.

“Disya menggambar apa, sayang?”
“Istana, Ma. Ada kita di dalamnya.”
“Oya? Mana coba mama lihat.” Disya mengangsurkan kertas gambarnya. Sebuah istana lengkap dengan para penghuninya. Kata mama, papa, Disya, Kesya menjadi atribut di bawah tiap gambar.
“Gambarnya mirip perayaan ulang tahun Disya kemarin ya.” Disya mengangguk.

Seperti itulah Disya, tiap kali mendapat tugas menggambar maka istana adalah gambar favoritnya. Kastil, ruang yang megah dan gambar seorang putri bergaun peach adalah tokoh utama di setiap lembar kertas gambarnya. Situasi yang mirip saat pesta pertambahan umurnya yang genap tujuh tahun.

Lena mengalihkan fokus pandangnya pada Kesya. Putrinya yang satu ini telah menghabiskan setengah lusin crayon berwarna hitam dalam sebulan ini. Gambar yang dibuatnya jauh dari warna cerah laiknya gambar anak lain seusianya.
“Eum, kalau Kesya gambar apa, sayang?”
“Rumah kita, Ma.” Lena menatap kertas gambar di depan Kesya. Awan yang abu-abu, kotak-kotak yang berhimpitan, aliran sungai yang berwarna coklat tua. Tak ada warna biru di sana, warna kesukaannya.
“Kotak-kotak ini apa, Ke?
“Rumah tetangga”. Singkat.

Lena menghela nafas. Kedua putrinya memang lahir kembar identik. Sebuah cekungan di pipi Kesya lah yang menjadi beda. Mereka identik secara fisik, namun sikap mereka menerima hidup yang sekarang sungguh beda. Mereka membangun dunia mereka masing-masing tanpa saling ganggu, tanpa saling melirik. Ada nyeri di ulu hati Lena.

Lena mampu melihat bagaimana Disya seolah-olah masih merasakan kehidupan yang dahulu, saat Rasya, ayah mereka, masih menjadi wakil direktur sebuah perusahaan semen ternama di kota ini. Disya masih menyimpan bagaimana rasanya menjadi seorang putri. Sementara Kesya, ia berusaha menerima kenyataan hidup mereka yang sekarang, yang sudah sangat jauh berbeda. Dan penerimaan itu digambarkannya gelap. Kelam.

Pandangan Lena kembali membentur jendela. Masih kosong. Jam di dinding menunjuk angka setengah sembilan.
“Kesya, Disya, bobo yuk. Udah setengah Sembilan. Mama punya cerita baru lho.” Mata kedua putrikembar itu binar. Segera membereskan crayon dan kertas gambar mereka.
“Dongeng putri dan istana lagi yah, Ma.” Disya merajuk dengan mata membola.
“Bosan”. Kesya kali ini tak setuju.
“Malam ini mama punya cerita lain, judulnya Papa Jerapah. Hem, penasaran kan? Yuk, kita ke tempat tidur.”

Lena mendongengkan Papa Jerapah pada Disya dan Kesya hingga lelap. Sebuah harap teriring dari hati, semoga mereka bisa berbesar hati menerima situasi sulit sekarang. Situsi yang sungguh jauh berbeda dari masa-masa saat ayah mereka masih dipercaya sebagai tangan kanan di perusahaan semen itu. Kebahagiaan terakhir yang mampu mereka kecap adalah perayaan usia mereka yang genap tujuh tahun. Disya dengan gaun peach, Kesya dengan gaun biru. Keduanya manis, mengalahkan gambar malaikat-malaikat di teve. Sebulan setelah malam perayaan, semuanya berubah. Disya dengan gambar istana, Kesya dengan crayon hitam adalah monumen perubahan itu.

Kembali Lena menghela nafas. Sudah jam sepuluh malam suaminya belum juga pulang. Pulang larut, kebiasaan yang sama saat Rasya masih menjadi orang penting. Berkeliling kemana lagikah gerangan? Lakukah segala dagangan yang dibawanya? Masih asyik bertanya, didengarnya ketukan kecil di pintu. 

Langkahnya tergesa, takut sang suami marah.
Tas besar di pundak kanan diletakkan Rasya ke lantai. Dasinya diperlonggar lalu beranjak ke dapur. Segelas air putih tandas. Lena mendekat.
“Mas, kok pulangnya malam?”
“Ada meeting dengan klien tadi.”
Nyeri kembali terasa di ulu hati Lena, bukankah klienmu telah meninggalkanmu, Mas…?

[Cerita Dangke] Serupa Menyusu dari Sapi

Sebuah cerita basi karena kehabisan inspirasi

Sebulan lalu menjelang hari raya Idul Qurban kembali saya menempuh perjalanan selama 10 jam dari Tana Toraja menuju kota Makassar. Jika pada bulan-bulan sebelumnya perjalanan saya habiskan dengan tidur di atas bus, maka perjalanan kali ini agak sedikit berbeda. Berbeda karena saya mendapat tumpangan gratis dari kepala sekolah tempatku bertugas dan juga pengalaman baru. Yah, pengalaman baru sebab mampu menikmati pemandangan indah sepanjang jalan dan juga berkenalan langsung dengan salah satu makanan khas yang jarang terdengar di telinga. Inilah yang akan saya ceritakan disini, namun jika terlalu berputar-putar harap dimaklumi, namanya saja kehabisan inspirasi.
Kami meninggalkan Tana Toraja yang terkenal dengan ritual Rambu Solo (sebuah pesta kematian yang kemeriahannya mengalahkan resepsi pernikahan) pukul tiga sore. Toraja adalah salah satu kabupaten terindah di propinsi Sulawesi Selatan menurutku, sebab sepanjang jalan mata memandang yang nampak adalah hijaunya gunung yang masih perawan.
Namanya perjalanan yang tak terikat apapun, maka beberapa kali kami singgah, entah membeli buah tangan atau sekedar melepas penat. Meninggalkan kabupaten Toraja dan memasuki kabupaten Enrekang, maka akan dijumpai penjual sayuran di pinggiran jalan. Yah, Enrekang memang terkenal dengan produksi sayuran segar dengan harga murah sehingga tak salah jika istri kepala sekolahku menjadikannya persinggahan pertama. “Beli sayur untuk mertua, mumpung murah,” ujar ibu empat anak ini.

enrekangtelukpalu.com
enrekangtelukpalu.com
Persinggahan kedua adalah membeli buah tangan. Inilah yang berkesan, sebab buah tangan kali ini lain dari biasanya, namanyaDangke. Nama ini sering terdengar namun agak kurang familiar di telingaku, hingga membuat penasaran. Dangke adalah makanan khas Enrekang yang sering diplesetkan dengan sebutan keju Enrekang. Bentuknya menyerupai tahu tapi agak lebih besar, berwarna putih dan agak kenyal. Lalu mengapa diplesetkan dengan sebutan keju Enrekang? Mari kita tanya si pembuat dangke… hehehe….
Dangke merupakan makanan khas yang pembuatannya sangat sederhana dari bahan yang sederhana pula, susu sapi atau susu kerbau (kami menyebutnya tedong). Dangke dibuat dengan cara merebus campuran susu sapi/kerbau, garam dan sedikit getah buah pepaya muda. Kata sang pembuat dangke, getah pepaya ini fungsinya untuk menggumpalkan susu, tapi tidak boleh terlalu banyak, takut dangke menjadi pahit. Setelah googling, tahulah bahwa getah pepaya itu mengandung enzim papain yang berfungsi memisahkan protein dan air sehingga susu menjadi padat. Hem, hebat siapa yah sang pembuat dangke atau om google…?

jadikanharinilebihbaik.blogspot.com
Nah, setelah susu menggumpal, maka adonan susu tadi dicetak dalam tempurung kelapa yang telah dibelah menjadi dua. Setelah adonan membeku, maka dangke dibungkus dengan daun pisang dan siap dinikmati, baik dimakan langsung ataupun dipanggang/di goreng terlebih dahulu. Sebuah keberuntungan saat itu buatku adalah melihat langsung proses pembuatan dangke tersebut, meski tidak sampai selesai. Info bermanfaat itu pun akhirnya dipertukarkan dengan selembar uang puluhan ribu. Yah, satu buah dangke dihargai sepuluh ribu rupiah, tapi belinya ga satu kok… hehe…
Belum meninggalkan tempat tersebut, mataku kembali melihat cemilan yang lain. Bukan Taro, Chiki dan sekawanannya, keripik Dangke itulah namanya. Dikemas dalam plastik bening kecil-kecil –yang besar juga ada, khas produksi rumah tangga. Hem, penasaran dengan rasa dan cara pembuatannya kembali langkah saya menemui sang pedagang. Ternyata selain diolah menjadi dangke, susu kerbau atau sapi juga bisa diolah menjadi keripik. Cocok bagi orang-orang yang tak senang mengkonsumsi susu secara langsung. Cara pembuatannya pun tak kalah sederhana, berbahan tepung beras, susu, dan garam. Namun langit yang mulai memerah membuatku tak sempat bertanya banyak tentang cara pembuatan keripik itu. Yah, perjalanan masih jauh sementara kepala sekolahku agak kewalahan saat menyetir pada malam hari, maka pertanyaan seputar keripik ditunda hingga saya mendapatkan kesempatan numpang gratis lagi mudik berikutnya. Namun, keinginan untuk mencicipi rasa keripik itu sepertinya tak bisa menunggu maka sekali lagi buah tangan untuk keluarga ditambah, bukan hanya “keju” Dangke tapi juga keripiknya.
Perjalanan berlanjut, melewati gunung Nona yang begitu indah dan membuat rasa takjub akan kuasaNya semakin besar. Singgah sejenak mengagumi keindahannya dengan mulut yang tak henti mengunyah keripik Dangke. “Bagaimana kalau sekalian kita makan dangkenya disini?” saran istri kepala sekolahku. Karena penasaran dan belum pernah mencoba sebelumnya maka anggukan kepalaku segera menyetujui ajakan tersebut. Dangke yang kami beli tadi di iris kecil-kecil, sebagai percobaan maka tanganku memilih irisan yang paling kecil. Aromanya memang seperti keju, namun tetap dominan aroma susu sapi buatku. Menggigit secuil dan melihat mukaku agak merengut maka spontan kepala sekolahku berujar “Bagaimana rasanya? Seperti menyusu dari sapi kan..?” Eum, no comment.

Minggu, 05 Desember 2010

Pesan dari Merpati




Diamku dalam pekat malam
Isyaratkan rindu pada hening yang hilang
Wahai hati yang telah menutup tabir dalam rinduku
Apakah telah kau baca larik makna dalam cengkrama para bintang
Janjikan terang yang kan hadir diantara gelap yang mengiring malammu
Antara nyata dan imaji yang terbalur dalam keinginan
Hamparkan langit malam yang kan menaungi tatap sendumu
Malam pun kan kuhiasi cahya purnama yang merona dalam malu
Untuknya
Keheningan malam ini seakan turut mengerti apa yang ada dalam benakku
Untaian syahdu yang sejenak mengikis kegundahanku
Lagukan syair yang memuji hadirnya
Indahnya
Heningnya
Angannya
Terisyaratkan dalam hadirnya
Bulan
Ungkapkanlah makna yang tersirat dalam kesederhanaannya
Lantunkanlah nada indah yang bertasbih dalam sujudnya
Aksarakan apa yang tergubah dalam pesan yang kutitipkan pada langit malammu
Namanya




> Sebuah pemberian... ^_^

November, Sebuah Perpisahan

November…
Menggulung gaun hujan
Memeluk tanah basah
Mencumbu embun pagi
Menciumi hijau dedaun
Mencubit pipi-pipi bebunga yang malu
Menatap sendu purnama
Menunggu tawa matahari
Melepas genggam pada senja
: aku harus beranjak, pamitnya.
.
Aku…
Kehabisan aksara
Menatap punggungnya yang menjauh
Membawa klon ingatanku
Menanggalkan segala romantisme
Mengenang peluk gigilnya
.
Tak perlu menangisi perpisahan ini
Ada tetanda yang ditinggalkannya
: gerimis pagi ini terasa hangat … sangat…
.

Jumat, 19 November 2010

[Cerita Bassang dan Putu Cangkir] Yang Dirindu, Yang Terlupakan

Pagi ini terbangun di tempat yang berbeda. Lelah semalam menguap sudah. Matahari perlahan bangkit. Menggantikan bulan yang pelan-pelan hilang dari mata telanjangku. Purnama sudah berlalu dua hari kemarin. Hem, kuperhatikan laptopku yang tertidur 4 jam lalu… Hem, biarkan dulu dia istirahat.

Menempuh perjalanan semalam, membuat perutku memainkan orkestra. Masih jam setengah enam subuh, tapi genderang lapar sudah ditabuh. Belum waktunya sarapan sebenarnya, tapi jika kampung tengah menuntut jatah… harus segera terpenuhi… hehe…

Berbicara sarapan, mengingatkanku pada dua makanan kegemaranku sedari kecil. Bassang dan Putu Cangkir. Keduanya makanan sederhana dengan rasa yang tak sederhana buatku. Menjadi candu sedari kecil dan kini menjadi hal yang paling dirindukan lidahku. Apalagi sejak menjadi makhluk nomaden. Makanan itu tak pernah lagi terkecap olehku.

1289907373372589346Bassang. Mungkin bagi orang-orang yang pernah menginjakkan kaki di bumi Sulawesi -khususnya Makassar- beberapa puluh tahun silam, pastilah familiar dengan makanan yang tiap pagi dijajakkan dengan sepeda yang membawa panci besar. Bassang tak lain adalah makanan tradisional Sulawesi yang terbuat dari jagung pulen dan santan yang disajikan dalam bentuk bubur. Penyajiannya pun sederhana, hanya ditambahkan sesendok atau lebih gula pasir. Tergantung selera.
Masih teringat waktu kecil dahulu, aku dan adik-adik dengan setia duduk di depan rumah tetangga –rumah kami berada di belakang rumah orang lain- menanti suara yang berteriak bassang…bassang… Jika suaranya telah terdengar dari jauh, maka dengan sigap adikku akan membawa rantang ke pinggir jalan, takut sang pedagang melewatkan kami. Tak lama kemudian uap mengepul dan putihnya bassang beralih dari panci ke rantang kami. Berikutnya ritual sarapan ramai-ramai dimulai.

 Kini, tak lagi kutemukan penjual bassang. Tiap menjenguk rumah, selalu kunantikan adanya teriakan bassang…bassang… Tapi, penantianku sia-sia. Terakhir menikmati bassang lima tahun lalu. Pedagangnya kebetulan tetangga. Tiga tahun lalu meminta adik bungsuku membelikan pada tetanggaku tersebut, ia hanya berucap… Daeng Ngai sudah tidak jualan lagi, Kak. Sudah mati ditikam. Setelah itu, tak lagi mudah menemukan pedagang bassang. Ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Lain bassang lain pula dengan Putu Cangkir. Aku menamakannya si manis karena bentuknya dan warnanya. Bentuknya yang imut dan warnanya yang coklat, ibarat seorang gadis berkulit sawo matang di depanku… (haha, analogi yang sama sekali salah sambung). Putu cangkir adalah salah satu makanan khas Bugis-Makassar yang terbuat dari campuran tepung ketan, gula merah dan kelapa parut kemudian dibentuk menggunakan cangkir dengan memanfaatkan uap air mendidih. Rasanya legit di lidah. Dan makanan ini sungguh membuatku kecanduan sejak kanak-kanak.
Jikalau bassang dijajakkan dengan menggunakan sepeda atau gerobak, maka putu cangkir dijajakan di pinggir jalan –dulunya. Penjualnya pun rata-rata adalah wanita yang telah berumur, terkesan tua. Senasib dengan bassang, putu cangkir pun telah mendekati kepunahan. Meski cara membuatnya sederhana, namun tak semua generasi mampu membuatnya.

Berbeda dengan Bassang, si manis Putu Cangkir masih lebih beruntung. Pedagang kue ini masih bisa dijumpai di pasar-pasar tradisional yang mulai tergeser oleh supermarket. Jika melihat seorang perempuan setengah baya tua, duduk di pinggir jalan dengan baskom berisi tepung berwarna coklat dan panci kecil yang mengepul, singgahlah sebentar siapa tahu itu kesempatan terakhir mencicipi putu cangkir (semoga tidak).

Bassang dan putu cangkir hanyalah contoh dari beberapa makanan tradisional yang dirindukan namun perlahan terlupakan. Dirindukan oleh orang-orang sepertiku, yang jauh dari tanah kelahiran. Dilupakan oleh adik-adikku yang lebih senang menikmati fastfood. Yah, kuakui segala macam fastfood itu memang sangat menggoda mata dan lidah. Sayang, lidahku lidah kampung…hingga masih saja merindukan bassang dan putu cangkir …


Terkait dengan tulisan ini :