Senin, 20 Desember 2010

[Cerita Dangke] Serupa Menyusu dari Sapi

Sebuah cerita basi karena kehabisan inspirasi

Sebulan lalu menjelang hari raya Idul Qurban kembali saya menempuh perjalanan selama 10 jam dari Tana Toraja menuju kota Makassar. Jika pada bulan-bulan sebelumnya perjalanan saya habiskan dengan tidur di atas bus, maka perjalanan kali ini agak sedikit berbeda. Berbeda karena saya mendapat tumpangan gratis dari kepala sekolah tempatku bertugas dan juga pengalaman baru. Yah, pengalaman baru sebab mampu menikmati pemandangan indah sepanjang jalan dan juga berkenalan langsung dengan salah satu makanan khas yang jarang terdengar di telinga. Inilah yang akan saya ceritakan disini, namun jika terlalu berputar-putar harap dimaklumi, namanya saja kehabisan inspirasi.
Kami meninggalkan Tana Toraja yang terkenal dengan ritual Rambu Solo (sebuah pesta kematian yang kemeriahannya mengalahkan resepsi pernikahan) pukul tiga sore. Toraja adalah salah satu kabupaten terindah di propinsi Sulawesi Selatan menurutku, sebab sepanjang jalan mata memandang yang nampak adalah hijaunya gunung yang masih perawan.
Namanya perjalanan yang tak terikat apapun, maka beberapa kali kami singgah, entah membeli buah tangan atau sekedar melepas penat. Meninggalkan kabupaten Toraja dan memasuki kabupaten Enrekang, maka akan dijumpai penjual sayuran di pinggiran jalan. Yah, Enrekang memang terkenal dengan produksi sayuran segar dengan harga murah sehingga tak salah jika istri kepala sekolahku menjadikannya persinggahan pertama. “Beli sayur untuk mertua, mumpung murah,” ujar ibu empat anak ini.

enrekangtelukpalu.com
enrekangtelukpalu.com
Persinggahan kedua adalah membeli buah tangan. Inilah yang berkesan, sebab buah tangan kali ini lain dari biasanya, namanyaDangke. Nama ini sering terdengar namun agak kurang familiar di telingaku, hingga membuat penasaran. Dangke adalah makanan khas Enrekang yang sering diplesetkan dengan sebutan keju Enrekang. Bentuknya menyerupai tahu tapi agak lebih besar, berwarna putih dan agak kenyal. Lalu mengapa diplesetkan dengan sebutan keju Enrekang? Mari kita tanya si pembuat dangke… hehehe….
Dangke merupakan makanan khas yang pembuatannya sangat sederhana dari bahan yang sederhana pula, susu sapi atau susu kerbau (kami menyebutnya tedong). Dangke dibuat dengan cara merebus campuran susu sapi/kerbau, garam dan sedikit getah buah pepaya muda. Kata sang pembuat dangke, getah pepaya ini fungsinya untuk menggumpalkan susu, tapi tidak boleh terlalu banyak, takut dangke menjadi pahit. Setelah googling, tahulah bahwa getah pepaya itu mengandung enzim papain yang berfungsi memisahkan protein dan air sehingga susu menjadi padat. Hem, hebat siapa yah sang pembuat dangke atau om google…?

jadikanharinilebihbaik.blogspot.com
Nah, setelah susu menggumpal, maka adonan susu tadi dicetak dalam tempurung kelapa yang telah dibelah menjadi dua. Setelah adonan membeku, maka dangke dibungkus dengan daun pisang dan siap dinikmati, baik dimakan langsung ataupun dipanggang/di goreng terlebih dahulu. Sebuah keberuntungan saat itu buatku adalah melihat langsung proses pembuatan dangke tersebut, meski tidak sampai selesai. Info bermanfaat itu pun akhirnya dipertukarkan dengan selembar uang puluhan ribu. Yah, satu buah dangke dihargai sepuluh ribu rupiah, tapi belinya ga satu kok… hehe…
Belum meninggalkan tempat tersebut, mataku kembali melihat cemilan yang lain. Bukan Taro, Chiki dan sekawanannya, keripik Dangke itulah namanya. Dikemas dalam plastik bening kecil-kecil –yang besar juga ada, khas produksi rumah tangga. Hem, penasaran dengan rasa dan cara pembuatannya kembali langkah saya menemui sang pedagang. Ternyata selain diolah menjadi dangke, susu kerbau atau sapi juga bisa diolah menjadi keripik. Cocok bagi orang-orang yang tak senang mengkonsumsi susu secara langsung. Cara pembuatannya pun tak kalah sederhana, berbahan tepung beras, susu, dan garam. Namun langit yang mulai memerah membuatku tak sempat bertanya banyak tentang cara pembuatan keripik itu. Yah, perjalanan masih jauh sementara kepala sekolahku agak kewalahan saat menyetir pada malam hari, maka pertanyaan seputar keripik ditunda hingga saya mendapatkan kesempatan numpang gratis lagi mudik berikutnya. Namun, keinginan untuk mencicipi rasa keripik itu sepertinya tak bisa menunggu maka sekali lagi buah tangan untuk keluarga ditambah, bukan hanya “keju” Dangke tapi juga keripiknya.
Perjalanan berlanjut, melewati gunung Nona yang begitu indah dan membuat rasa takjub akan kuasaNya semakin besar. Singgah sejenak mengagumi keindahannya dengan mulut yang tak henti mengunyah keripik Dangke. “Bagaimana kalau sekalian kita makan dangkenya disini?” saran istri kepala sekolahku. Karena penasaran dan belum pernah mencoba sebelumnya maka anggukan kepalaku segera menyetujui ajakan tersebut. Dangke yang kami beli tadi di iris kecil-kecil, sebagai percobaan maka tanganku memilih irisan yang paling kecil. Aromanya memang seperti keju, namun tetap dominan aroma susu sapi buatku. Menggigit secuil dan melihat mukaku agak merengut maka spontan kepala sekolahku berujar “Bagaimana rasanya? Seperti menyusu dari sapi kan..?” Eum, no comment.

Minggu, 05 Desember 2010

Pesan dari Merpati




Diamku dalam pekat malam
Isyaratkan rindu pada hening yang hilang
Wahai hati yang telah menutup tabir dalam rinduku
Apakah telah kau baca larik makna dalam cengkrama para bintang
Janjikan terang yang kan hadir diantara gelap yang mengiring malammu
Antara nyata dan imaji yang terbalur dalam keinginan
Hamparkan langit malam yang kan menaungi tatap sendumu
Malam pun kan kuhiasi cahya purnama yang merona dalam malu
Untuknya
Keheningan malam ini seakan turut mengerti apa yang ada dalam benakku
Untaian syahdu yang sejenak mengikis kegundahanku
Lagukan syair yang memuji hadirnya
Indahnya
Heningnya
Angannya
Terisyaratkan dalam hadirnya
Bulan
Ungkapkanlah makna yang tersirat dalam kesederhanaannya
Lantunkanlah nada indah yang bertasbih dalam sujudnya
Aksarakan apa yang tergubah dalam pesan yang kutitipkan pada langit malammu
Namanya




> Sebuah pemberian... ^_^

November, Sebuah Perpisahan

November…
Menggulung gaun hujan
Memeluk tanah basah
Mencumbu embun pagi
Menciumi hijau dedaun
Mencubit pipi-pipi bebunga yang malu
Menatap sendu purnama
Menunggu tawa matahari
Melepas genggam pada senja
: aku harus beranjak, pamitnya.
.
Aku…
Kehabisan aksara
Menatap punggungnya yang menjauh
Membawa klon ingatanku
Menanggalkan segala romantisme
Mengenang peluk gigilnya
.
Tak perlu menangisi perpisahan ini
Ada tetanda yang ditinggalkannya
: gerimis pagi ini terasa hangat … sangat…
.

Jumat, 19 November 2010

[Cerita Bassang dan Putu Cangkir] Yang Dirindu, Yang Terlupakan

Pagi ini terbangun di tempat yang berbeda. Lelah semalam menguap sudah. Matahari perlahan bangkit. Menggantikan bulan yang pelan-pelan hilang dari mata telanjangku. Purnama sudah berlalu dua hari kemarin. Hem, kuperhatikan laptopku yang tertidur 4 jam lalu… Hem, biarkan dulu dia istirahat.

Menempuh perjalanan semalam, membuat perutku memainkan orkestra. Masih jam setengah enam subuh, tapi genderang lapar sudah ditabuh. Belum waktunya sarapan sebenarnya, tapi jika kampung tengah menuntut jatah… harus segera terpenuhi… hehe…

Berbicara sarapan, mengingatkanku pada dua makanan kegemaranku sedari kecil. Bassang dan Putu Cangkir. Keduanya makanan sederhana dengan rasa yang tak sederhana buatku. Menjadi candu sedari kecil dan kini menjadi hal yang paling dirindukan lidahku. Apalagi sejak menjadi makhluk nomaden. Makanan itu tak pernah lagi terkecap olehku.

1289907373372589346Bassang. Mungkin bagi orang-orang yang pernah menginjakkan kaki di bumi Sulawesi -khususnya Makassar- beberapa puluh tahun silam, pastilah familiar dengan makanan yang tiap pagi dijajakkan dengan sepeda yang membawa panci besar. Bassang tak lain adalah makanan tradisional Sulawesi yang terbuat dari jagung pulen dan santan yang disajikan dalam bentuk bubur. Penyajiannya pun sederhana, hanya ditambahkan sesendok atau lebih gula pasir. Tergantung selera.
Masih teringat waktu kecil dahulu, aku dan adik-adik dengan setia duduk di depan rumah tetangga –rumah kami berada di belakang rumah orang lain- menanti suara yang berteriak bassang…bassang… Jika suaranya telah terdengar dari jauh, maka dengan sigap adikku akan membawa rantang ke pinggir jalan, takut sang pedagang melewatkan kami. Tak lama kemudian uap mengepul dan putihnya bassang beralih dari panci ke rantang kami. Berikutnya ritual sarapan ramai-ramai dimulai.

 Kini, tak lagi kutemukan penjual bassang. Tiap menjenguk rumah, selalu kunantikan adanya teriakan bassang…bassang… Tapi, penantianku sia-sia. Terakhir menikmati bassang lima tahun lalu. Pedagangnya kebetulan tetangga. Tiga tahun lalu meminta adik bungsuku membelikan pada tetanggaku tersebut, ia hanya berucap… Daeng Ngai sudah tidak jualan lagi, Kak. Sudah mati ditikam. Setelah itu, tak lagi mudah menemukan pedagang bassang. Ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Lain bassang lain pula dengan Putu Cangkir. Aku menamakannya si manis karena bentuknya dan warnanya. Bentuknya yang imut dan warnanya yang coklat, ibarat seorang gadis berkulit sawo matang di depanku… (haha, analogi yang sama sekali salah sambung). Putu cangkir adalah salah satu makanan khas Bugis-Makassar yang terbuat dari campuran tepung ketan, gula merah dan kelapa parut kemudian dibentuk menggunakan cangkir dengan memanfaatkan uap air mendidih. Rasanya legit di lidah. Dan makanan ini sungguh membuatku kecanduan sejak kanak-kanak.
Jikalau bassang dijajakkan dengan menggunakan sepeda atau gerobak, maka putu cangkir dijajakan di pinggir jalan –dulunya. Penjualnya pun rata-rata adalah wanita yang telah berumur, terkesan tua. Senasib dengan bassang, putu cangkir pun telah mendekati kepunahan. Meski cara membuatnya sederhana, namun tak semua generasi mampu membuatnya.

Berbeda dengan Bassang, si manis Putu Cangkir masih lebih beruntung. Pedagang kue ini masih bisa dijumpai di pasar-pasar tradisional yang mulai tergeser oleh supermarket. Jika melihat seorang perempuan setengah baya tua, duduk di pinggir jalan dengan baskom berisi tepung berwarna coklat dan panci kecil yang mengepul, singgahlah sebentar siapa tahu itu kesempatan terakhir mencicipi putu cangkir (semoga tidak).

Bassang dan putu cangkir hanyalah contoh dari beberapa makanan tradisional yang dirindukan namun perlahan terlupakan. Dirindukan oleh orang-orang sepertiku, yang jauh dari tanah kelahiran. Dilupakan oleh adik-adikku yang lebih senang menikmati fastfood. Yah, kuakui segala macam fastfood itu memang sangat menggoda mata dan lidah. Sayang, lidahku lidah kampung…hingga masih saja merindukan bassang dan putu cangkir …


Terkait dengan tulisan ini :

Sabtu, 06 November 2010

[Larut dalam Kenangan] Cerita Hujan



Pada mulanya hujan itu hanya ada di dalam mimpiku,
di dalam tidurku, di sepasang mataku yang terpejam.

Kemudian hujan itu jatuh cinta kepada sepasang mataku
yang tidak tidur. Aku selalu menemukan bebulu mataku
basah bagai embun di rerumputan, di pagi dan sore hari.

Gerimis menyapa teritisan rumah. Sekarang sedang musim penghujan, wajar jika tiap sore hujan menyapa kampung tempatku bermukim sekarang. Jika jarum jam telah menunjuk angka dua dan dua belas maka lihatlah ke atas. Langit sedang menyulam benang-benang hitam yang sebentar lagi berdegradasi menjadi tetes bening.  Tetes yang mampu menyejukkan atau mungkin menyakiti. Mataku takkan pernah letih memandangi perubahan itu, menanti yang kelabu di atas pelan-pelan jatuh lalu menderas menyajikan orkestra di atap-atap seng rumah. Juga menyapu lembut dedaunan yang mendoa. Hujan telah memiliki nada sendiri di telingaku. Notasinya hanya mampu terbaca oleh mataku. Sebab mataku dan hujan telah lama saling mencintai.

Kemudian hujan itu jatuh cinta juga kepada tubuhku.
Hujan senang sekali menyiram-memandikan tubuhku.
Tubuhku tiba-tiba saja memiliki sebuah kamar mandi
dengan sebuah kolam yang selalu penuh dengan hujan.

Angin telah tiba, menghempas hujan kemana ia suka. Ke barat, timur, tenggara, ke mana saja hingga akhirnya tiba di tubuhku. Sore seperti ini tak usah mandi, pikirku. Toh hujan telah memandikanku, tanpa perlu sabun-shampoo. Wangi yang ditawarkannya melebihi wangi berbagai merk sabun. Yah, wangi alam. Wangi laut, danau, sungai, rawa, empang, curug, bahkan bau air seni yang tersembunyi di balik rimbun dedaunan. Tak satupun pabrik yang mampu meramu semuanya hingga menghasilkan aromatherapy yang begitu menenangkan. Hanya Dia. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa aku tenang di bawah hujan, meski tubuhku telah serupa kolam yang meluap menampung buliran langit itu. Sebab aku merasakanNya di sini, saat hujan memandikanku. Tubuhku dan hujan pun telah sama-sama jatuh cinta.

Kemudian hujan itu jatuh cinta kepada tempat tidurku,
kepada kamarku, juga rumahku. Rumahku penuh hujan.
Aku melihat lemari, kursi dan meja, pakaian, buku-buku,
dan kenanganku berenang-renang di genangan hujan.

Sebuah kebiasaanku di masa kanak-kanak jika hujan menderas, menari bersama angin, bersuara bersama petir dan menyilaukan bersama kilat adalah bersembunyi di bawah selimut hangat. Sesekali mendongak ke atas melihat perpaduannya dengan wajah takut-takut. Kebiasaan itu telah lama kikis, sejak aku jatuh cinta pada hujan. Kita takkan bersembunyi dari sesuatu yang kita cintai, kita akan selalu mendekat padanya. Begitupun dengan hujan dan Dia. Hujan telah melukis banyak kenangan di ingatanku, perpisahan-perjumpaan, tawa-tangis, rindu-benci, galau-damai, dan semua itu karena tangan penciptaanNya, skenario terbaikNya. Lalu mengapa harus bersembunyi lagi dari hujan, biarlah hujan menggenangi seluruh isi rumah. Sebab kenanganku akan mengapung di atasnya. Kenangan memelukku di bawah hujan, sebab hati kami telah sama-sama mencinta.

Kemudian hujan jatuh cinta kepada halaman rumahku.
Hujan menenggelamkan pohon-pohon dan bunga-bunga
yang pernah ditanam di taman itu. Aku melihat tangkai
dan bangkai bunga mengapung-apung di depan rumahku.

Kemudian hujan itu juga jatuh cinta kepada jalan raya.
Aku menyaksikan hujan itu berjalan seperti kendaraan
di atasnya. Aku tak tahu akan berjalan menuju ke mana.

Di layar segi empat ruang tamu riuh terdengar. Kupalingkan wajah sebentar. Di sana hujan pun menyapa. Mengetuk deras segala pintu. Mencipta bah di pelosok negeri. Bahkan di sebuah kota yang telah lama menjadi ibu dari segala kota di negeri ini, jalan-jalan tak nampak lagi. Berganti genangan keruh. Mungkin sebentar lagi Baby Benz, Mercedes, Toyota, Kijang, Xenia, dan kawan-kawannya takkan lagi terpapar manis. Akan tertutup lumpur yang menyesakkan jalan napas mereka. Hujan juga mencintai mereka, berkenan memandikan mereka, menciptakan kenangan pada sang empunya untuk lebih ramah pada alam, pada kawan-kawan hujan, pada mula lahirnya hujan. Kali ini hujan tak memeluk ramah, ia menjebak. Menutup segala arah. Meminta kita menunduk, merenung, mengingat seberapa perih luka yang telah kita torehkan pada ibu pertiwi. Seberapa dalam kerukan-kerukan yang kita gali dari perutnya. Seberapa tamak kita berupaya menghabiskannya tanpa peduli pada saudara di ujung negeri. Hujan kali ini ingin mengajarkan kita kembali mengeja arti kasih sayang. Hingga tak ada lagi tangkai bunga yang menjadi bangkai di halaman-halaman rumah.

Engkau tahu? Aku selalu membayangkan hujan itu singgah
di halaman rumahmu, mengetuk-ngetuk pintu rumahmu,
mendesak masuk ke kamarmu, naik ke tempat tidurmu,
merasuk ke tubuhmu, dan jatuh cinta kepada matamu.

Aku selalu berdoa, di dalam tidurmu, di dalam mimpimu,
sepasang matamu yang terpejam melihat aku dan hujan,
melihat aku bermain hujan, bermain hujan sendirian.
Dan engkau ingin sekali menemani aku bermain hujan.

Hujan pun tak bisa kupisahkan dari mengingati dirimu. Segela kenang tentangmu mekar beriring gerimis. Pertemuan kita dimulai di bawah gerimis. Bagaimana tarian tubuh kita ditingkahi gerimis yang malu-malu. Atau mungkin justru sebaliknya, tubuh kita menari malu-malu di bawah gerimis. Ada jeda yang jauh antara tubuhmu dan tubuhku. Namun, sungguh itulah tarian terindahku di bawah hujan.  Menatapi punggungmu, mendongak berusaha melukis wajahmu, dan menungu senyummu yang tersembunyi. Namun, jarum-jarum langit berubah garang. Memaksa langkah-langkah kita berlari mencari teduh. Cukuplah waktu yang singkat itu kurangkum dalam ingatan yang tak lekang. Selepas hari itu, aku sering bermain sendiri di bawah hujan. Sambil terus melantunkan do’a semoga kelak kau akan berdiri di sampingku menemaniku bermain hujan…

Beberapa baris catatan :
Ø  Penggalan sajak dalam tulisan ini meminjam sajak dari M. Aan Mansyur yang berjudul Sajak buat Orang-Orang yang Suka Bermain Hujan.