Rabu, 25 Agustus 2010

14 Hari Merangkai Cerita






Empat belas hari kita disatukan
Empat belas hari kita berbagi
Empat belas hari merangkum segala laku
Empat belas hari merangkai cerita kita
Tentang persahabatan dan persaudaraan

Mengenang Perempuanku

Senja temaram, angin laut pelan mempermainkan rambutku yang telah tiga bulan tak tersentuh gunting. Entah apa yang kulakukan di sini. Langkah kakiku lah yang menuntunku ke tempat ini, sisi Losari. Jauh dari ramai orang-orang yang lebih senang berkumpul di Anjungan Bahari. Matahari senja sempurna melukis wajah perempuan itu, perempuan dengan tahi lalat kecil tepat di kedua pipi yang selalu membuatnya tampak menawan kala tersenyum.

Angin berputar bersama dengan pusara ingatanku yang kembali ke masa setahun silam, masa saat suara di ujung telepon membuat debar jantungku berpacu lebih cepat. Yah, penghujung Desember itu adalah masa yang lengkap terekam di ingatanku, saat mula ku mengetuk pintu yang tlah lama rapat. Tak usahlah kubagi sebagian masa itu, sebab itu adalah masa yang sungguh ingin kukenang sendiri.

Semua rasanya berjalan begitu cepat, waktu seolah melayang saja diantara kami, hingga tanpa terasa serupa ada jalinan tak kasat mata yang mengikat di antara kami. Tapi, hidup tak selamanya indah meski kita telah melalui banyak getir. Indah hanya dinikmati di awal atau pada akhir sebuah kisah. Begitu juga hidup kami. Semua mimpi yang terlukis di langit luruh oleh deras hujan, menyisakan mendung yang terus menggelayut.

Perempuan itu telah menawan hatiku sejak mula kumelihatnya, di sebuah pagi masa penerimaan mahasiswa baru –masa yang selalu menyimpan romantisme antara senior-junior. Ia datang terlalu pagi, hingga salah seorang panitia mengambil kesempatan mengerjainya. Aku hanya menatap di balik sarung, dingin masih mencengkeram saat itu. Namun, kuku-kuku dingin tak mampu menghalangi tungku hangat yang mulai menyala di hatiku pagi itu.

Waktu berlalu cepat, masa romantisme tlah usai, namun tak kujumpai lagi wajahnya di antara wajah-wajah baru yang tiap hari lalu lalang. Ah, aku lupa. Aku tak sejurusan dengannya, pantaslah wajahnya tak kutemukan. Menjelma sebuah kebiasaan baru buatku, tiap hari mengitari koridor ruang kuliah sambil berharap tak sengaja berpapasan dengannya, namun mengapa wajahnya tak jua nampak? Tahukah ia bahwa ada seorang lelaki “gila” yang sedang mencarinya hingga ia sengaja bersembunyi, atau ia mungkin terlalu sibuk dengan segala tugas kuliahnya hingga mendekam di ruang kuliah saja. Maka selain mengitari koridor, sesekali kulongokkan kepalaku ke ruang kuliah jurusannya. Kapasitasku sebagai senior membuatku bisa melakukan hal itu. Hal-hal yang sungguh bodoh. Dua bulan berlalu tak ada hasil dari segala usaha bodohku, aku menyerah, menyerah di saat yang salah.

Angin masih sempurna memainkan rambutku, menghapus jejak-jejak keringat di dahiku. Jejak perkenalanku dengan perempuan itupun sempurna terlukis di antara debur ombak.

“Kak, ini temanku,” perempuan di sampingku memperkenalkan perempuan itu padaku. Tungku hangat itu kembali menyala, tapi di saat yang salah. Perempuan itu hanya tersenyum menerima uluran tanganku. Perempuan di sampingku memperkenalkanku sebagai kekasihnya, dan lagi-lagi perempuan itu kembali tersenyum kemudian meminta diri. Ah mengapa baru sekarang kita berpapasan?

Hidup berputar laksana roda, aku dan kekasihku, perempuan itu dengan kekasihnya pula. Namun pertemuan demi pertemuan juga berputar tak kalah cepat. Selalu ada masa di mana perempuan itu nampak di depan mataku tanpa sengaja. Tak kusiakan memandanginya, memandangi wajah yang tanpa sadar telah menyalakan tungku di hatiku pada sebuah subuh yang menggpgil dan sekarang tungku itu membara. Wajah tanpa riasan yang menawanku dengan senyum yang tak bisa kugambarkan. Senyum yang kadang bukan untukku, namun aku senang mencurinya di sela-sela derai tawa teman-temannya. Toh, tak ada yang memperhatikanku, perempuan itu sekalipun.

Waktu begitu pandai mempermainkan rasa. Perempuan itu akhirnya menghilang. Kuliahnya usai. Pelan-pelan padamlah nyala di hatiku. Aku dan kekasihku sebentar lagi menikah. Semua nyala boleh padam, namun arang selalu tersisa bukan? Begitu pula dengan hatiku.

Waktu begitu pandai memutar balikkan segala rencana. Pernikahan yang tlah sempurna terancang batal, menyisakan sebuah luka pada orang yang mencintaku. Dan kumemilih pergi. Bukan lari, hanya pergi untuk sementara. Memberi kesempatan pada waktu untuk menyembuhkan segala luka.

Waktu begitu mahir mengatur segala pertemuan. Kutemukan lagi perempuan itu di tengah hiruk duniaku, tanpa sengaja. Jika dulu ia menciptakan nyala, kini ia bagai mata air. Di subuh yang dingin ia menularkan hangat, di penatnya jiwaku ia membasuh segala resah dan mengalirkannya jauh.

Obrolan demi obrolan telah menjalin sesuatu yang berbeda diantara kami. Derai tawanya tlah menjadi candu yang kadang membuatku sakaw. Ingin kumiliki senyum itu. Sungguh.

Harapan-harapan menguncup. Disirami kasih yang pelan-pelan menjelma. Namun waktu sekali lagi menunjukkan kepandaiannya memainkan rasa. Saat semua terjalin, saat semua rencana terancang sempurna, maka waktu kembali menunjukkan kepongahannya. Menunjukkan nyata bahwa kami takkan pernah bisa satu, takkan pernah.

Suatu sore ia datang mengadu, bercerita tak tentu arah. Menatapku dalam-dalam dengan bulat matanya yang kemudian mengalirkan perigi yang tak kunjung mengering. Semua tiba pada sebuah simpulan, ia tak bisa bersamaku, bukan tak ingin tapi sungguh tak bisa. Ia memutuskan menyerah pada semua perih yang menghunjam, juga pada tangis yang selalu tertahan. Yah, ia menyerah pada permainan waktu juga rasa. Di ujung kalimatnya yang juga menjadi muara periginya ia hanya berujar berhentilah memainkan rasa di dada ini.

Sebulan silam kabar darinya dihembuskan angin, mampir di telingaku. Ia akan segera menikah dengan seorang lelaki yang dikenalkan sahabatnya. Seminggu lalu kami bertemu. Setelah sekian waktu tak melihat wajah dan tahi lalat di pipinya, maka pertemuan itu seolah klimaks yang meluruhkan sedikit kerinduanku padanya. Ia masih saja sama, sederhana tanpa warna. Namun, tahi lalat di pipinya tak pernah berpindah tempat. Apakah karena pertemuan ini hingga senyum tak bertahta di wajahnya?

“Tak usah menanyakan perihal senyuman, Kak. Ia sudah hilang sejak pertemuan kita hari itu”, ujarnya tanpa garis wajah yang berubah. Datar.
“Lalu lelaki itu?”,
“Dia datang menawarkan pundaknya saat aku sungguh tak bisa lagi berdiri. Dia bersedia bersabar dengan hatiku yang terlanjur menyimpan sosokmu. Dia tak menuntut aku mencintainya. Dia hanya ingin aku berdiri. Sederhana.”

Berikutnya hanya angin yang memainkan musik di telinga kami. Mengibarkan kerudungnya, mengacak rambutku. Dan untuk sepersekian detik tangan perempuan itu mengusap rambutku, menunjukkan tahi lalatnya yang sedikit bergeser, sebuah cermin nampak di matanya.

***
Langit tlah berubah gelap. Esok pagi perempuan itu akan terikat ijab qabul. Kini hatiku benar-benar gelap. Gersang. Nyala dan mata airku tlah pergi. Gerimis jatuh pelan-pelan, getaran handphone di saku mengusik persetubuhanku dengan sunyi. Pesan singkat dari perempuan itu, datanglah esok kak, saat riasan menghalangi pendar yang selama ini kau kenang, lihatlah riasan itu berpola mendung...

Gerimis tlah sempurna berubah rupa, waktuku rupanya telah habis mengenangnya, mengenang perempuan itu. Dan tlah kuputuskan esok takkan datang. Sebab aku tak mau ingatanku tentang esok menghapus wajah sederhananya.

Minggu, 07 Februari 2010

Buka Mata Cahaya

“Bukalah matamu, nak.”
“Tidak, Bu.”
“Sudah terlalu lama kau menutup mata.”
“Biarlah, Bu. Dengan begini aku bisa bahagia.”
“Bagaimana kau bisa bahagia dengan mata tertutup. Bukalah matamu, Nak.”
“Tidak, Ayah. Takkan kutukar kebahagiaan ini dengan sekali kedipan mata. Dengan setitik cahaya. Biarlah seperti ini.”

Perbincangan itu terjadi saat aku baru tiba di rumah besar ini. Di sebuah kamar dengan jendela menghadap ke laut. Antara seorang perempuan dan ayah-ibunya.

Perempuan itu bernama Cahaya. Saudara sepupuku dari pihak ibu. Ayahnya dan ibuku bersaudara kandung, hingga pertalian kami sangatlah dekat. Namun, tak sedikitpun ada kemiripan antara aku dan dia. Aku mewarisi hampir semua ciri-ciri keluarga ibuku – berkulit agak hitam, rambut ikal dengan tinggi badan yang pas-pasan. Sedangkan ia, tak sedikitpun membawa fenotip dari keluarga besar kami. Bahkan dari keluarga ibunya. Ia lahir membawa kode-kode genetiknya sendiri.

Ia diberi nama Cahaya, sebab saat ia lahir kulitnya begitu putih, bersih. Ia lahir dini hari, pukul tiga. Saat lahir, tubuhnya serupa mengeluarkan cahaya yang mengalahkan nyala sulo – pendahulu lilin dan lampu, terbuat dari sumbu yang disimpan di dalam kaleng kecil berisi minyak tanah. Begitu yang diceritakan oleh puang-puangku.

Di dalam keluargaku, kami diwajibkan memanggil puang pada tante, om dan orang-orang tua yang wajib dihormati sebelum menyebut nama asli mereka. Jika mereka telah bertamu ke Mekah, maka bertambah pulalah huruf yang kami lekatkan pada nama mereka, menjadi puang aji.

Cahaya memang selalu menjadi cahaya diantara kami yang berkulit legam. Dulu, waktu aku dan sepupu-sepupuku masih sering berkumpul, kami selalu membicarakan perbedaan Cahaya – tanpa ia ketahui tentunya. Kadang kami menganggap bahwa ia bukan anak kandung dari ayah ibunya. Rasanya tak mungkin anak berkulit putih bersih sepertinya lahir dari ayah dan ibu berkulit hampir gelap seperti kami. Tak jarang, salah satu sepupu perempuanku yang bernama Maryam membuatnya menangis dengan mengatainya anak pungut. Rasa iri kanak-kanak yang terlalu berlebihan.

Saat aku beranjak remaja, pernah kutanyakan ihwal Cahaya pada ibuku – lengkap dengan bumbu anak pungutnya. Tapi, bukannya mendapat penjelasan yang masuk akal, aku justru diwajibkan memenuhi tempayan setinggi satu meter dengan mengangkat air dari sungai yang berjarak dua kilometer dari rumahku. Sebuah pelajaran agar tak berburuk sangka pada sepupu – dan orang lain tentunya.

Barulah setelah menginjak SMU baru kuketahui bahwa kemungkinan Cahaya berbeda dari kami hampir sama dengan kemungkinan lahirnya anak bergolongan darah O dari ayah dan ibu yang bergolongan darah bukan O. Atau sama dengan anak kucingku yang berbelang tiga namun kedua induknya tak satupun berbelang tiga. Seperti yang kukatakan dari awal, Cahaya lahir dengan membawa kode-kode genetiknya sendiri !

Sudah dua pekan aku menemani Cahaya di kamarnya, sesuai permintaan ibunya saat menjemputku dulu. Ia menyuruhku membujuk Cahaya membuka matanya. Awalnya kupikir tugas ini akan berjalan mudah. Apa susahnya menyuruh seseorang membuka mata?. Teman kuliahku yang kehilangan penglihatan sedari kecil, siap membayar berapa saja asalkan bisa melihat meski hanya lima menit. Apalagi seorang perempuan yang terbiasa melihat keindahan semesta. Takkan sanggup ia berlama-lama menutup mata hanya karena kemarahan sesaat. Yah, saat itu aku berpikir bahwa Cahaya sedang marah pada ayah ibunya karena keinginannya tidak terpenuhi. Sama seperti aku yang mogok makan dan puasa berbicara saat sedang kesal dengan ibuku. Tapi, ternyata aku salah.

Sudah hampir tujuh bulan Cahaya menutup mata, itu cerita ibunya. Mengapa dan bagaimana ia sendiri tidak tahu. Tugaskulah mencari tahu dan memintanya membuka mata kembali. Dan sudah dua minggu aku di sini, tak sedikitpun yang bisa aku lakukan selain duduk dan melihat sosok lain dari si buta dari goa hantu, sosoknya yang perempuan.

Sepertinya Cahaya tak ingin lagi melihat cahaya. Ia telah menemukan dunia lain di balik kelopak matanya. Dunia yang telah mengalahkan cerahnya matahari, yang mungkin memberinya kasih melebihi kedua orang tuanya. Dunia yang telah menghisap terang dari dirinya yang cahaya.

Aku tak bisa hanya duduk dan mengamatinya saja tiap hari. Aku pun mulai tidak enak hati pada ibu Cahaya yang tiap pagi dan petang menanyakan anaknya. Aku harus melakukan sesuatu !
Aku masuk ke kamar. Cahaya duduk menghadap laut. Kelopak matanya masih saling merapat. Amis rumput laut yang berjajar di bibir pantai memenuhi ruang paruku. Sama seperti ribuan tanda tanya yang berdesakan di ubun-ubunku.

“Hai, Cahaya…..aku Bulan, sepupumu, kau ingat bukan ?.” Terlalu kaku, rutukku. Cahaya masih diam. Kebisuannya membuatku mengeja ulang namaku dalam hati. B-u-l-a-n. Ibu memberiku nama Bulan, mungkin diharapkannya agar aku seperti bulan yang bersinar di malam hari. Tapi, dengan kulit legamku ini, aku merasa ibuku memberi kutukan dengan nama itu. Sebab, teman-temanku biasanya menambahkan satu kata di belakang namaku, mati. Jadilah namaku yang terkenal di kampus, Bulan Mati!

“Ternyata kau bisa bicara juga yah….,” itu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya.
“Maksudmu ?”
“Sejak kau datang dua minggu lalu, aku sudah merasakan kau selalu ada di dekatku. Mengamatiku. Namun, baru kali ini kau bersuara. Kupikir ibu membawakanku seorang teman yang bisu. Maka lengkaplah penghuni kamar ini, si buta dan si bisu….,” belum selesai kalimatnya, ia tertawa. Yah, ia tertawa !
“Ah….maaf kalau perkataanku tadi menyinggungmu, Bulan”
“Tak mengapa”
“Sudah lama kita tak bertemu, hampir sepuluh tahun. Tapi, waktu selama itu tak mengikis ingatanku tentangmu dan sepupu kita yang lain, terutama Maryam. Apa kabarnya ia sekarang ? Sudah berhentikah ia iri padaku?” Badannya diputar membelakangi laut.
“Maryam sudah menikah, anaknya sudah dua. Ia tak iri lagi padamu.”
“Syukurlah. Tak ada hal yang membuatnya harus iri padaku, perempuan yang kehilangan penglihatan.”
“Sengaja menghilangkan penglihatan,” ralatku. Cahaya hanya tersenyum mendengar kalimatku.
“Mengapa kau melakukan hal ini, Cahaya ?”
“Maksudmu ?”
“Sengaja menutup mata, membutakan diri. Membuat resah kedua orang tua. Sepertinya kau tak mensyukuri dirimu yang hampir sempurna.”
“Justru dengan cara ini kutunjukkan syukurku pada Tuhan”
“Aku tak mengerti. Tuhan memberimu indera yang sempurna, tapi kau sia-siakan. Bukan bersyukur...”
“Kau tak mengerti apa-apa dan takkan mengerti. Aku melakukan ini karena aku tak ingin mengotori hasil ciptaan Tuhan ini dengan berbagai pemandangan kotor. Aku jengah melihat laku manusia yang kian hari makin jauh dari tata karma dan sopan santun. Juga dari pengabdian padaNya. Ah, hanya akulah yang tahu alasan tepatnya… Dan yang lebih penting dengan mata tertutup ini aku lebih peka dari kalian… Aku bisa melihat dunia yang lebih indah… Ah, sepupuku kau takkan mengerti. Sudahlah, jangan kau bujuk aku seperti permintaan Ibuku…”.

Kalimat terakhir darinya beriringan dengan adzan Ashar. Cahaya beranjak dari jendela menuju kamar mandi. Ia berjalan serupa orang normal, tanpa tertatih atau meraba. Ah, betulkah ia lebih peka…??
Kuhela nafas, memikirkan kalimat apa yang kan kukatakan pada ibunya saat menanyakan musabab anaknya berlaku demikian. Ataukah aku harus menutup mulut saja? Seperti Cahaya yang menutup mata…

Segelas Susu Hangat

Cerita ini berawal dari seorang anak jalanan yang berjalan tak tentu arah, mencari makan dari bus ke bus, dari rumah ke rumah, tidur dari emperan toko ke toko lain, mengadahkan tangan untuk mengharap belas kasihan dari orang-orang dermawan.

Waktu demi waktu, hari terus berjalan, bulan berganti bulan, hingga sampai suatu saat, anak itu meminta-minta di sebuah rumah yang berpenghuni seorang janda yang hidup sebatang kara.

“Bu boleh minta makan? Atau minum juga boleh Bu”, memelas anak itu.

“Oya silahkan masuk nak, kalau cuma untuk makan atau minum tidak usah minta-minta kayak gini.” Ibu itu menerimanya dengan tulus.
“Nih secangkir susu hangat, biar badanmu terasa hangat”, tambah ibu itu. “Kalau cuma untuk secangkir susu hangat, kamu tidak perlu minta-minta lagi, datang aja ke sini, nanti ibu siapkan”, jelas ibu dengan tulus.
“Dan mulai sekarang ibu sudah menganggap kamu seperti anak ibu sendiri..” tambah ibu itu.

“Ya terima kasih banyak bu..” jawab anak itu.

Keesokan harinya ibu menunggu anak itu, tapi apa hendak di kata anak itu tak kunjung datang lagi ke rumah ibu itu. Ternyata, setelah diketahui anak jalanan itu tertangkap razia oleh Satpol PP.
Wanita itupun sudah berpindah-pindah rumah.

20 tahun kemudian ibu janda itu divonis mengidap kanker ganas dan harus dioperasi. Karena ibu itu hanya sebatang kara dan tak memiliki uang, maka rumah yang dia tempati sekarang akan dijualnya untuk biaya operasi.

Tapi betapa kagetnya ibu itu ketika hendak membayar, ternyata telah lunas, dan di sana tertulis...

"TELAH DIBAYAR DENGAN SECANGKIR SUSU HANGAT.."

Ternyata setelah tertangkap razia oleh Satpol PP, anak jalanan itu disekolahkan oleh pemerintah sampai dia menjadi seorang dokter, dan ketika itu hanya satu yg ada dalam pikiran anak itu..

"BAGAIMANA SAYA BERTERIMA KASIH DAN MEMBALAS JASA IBU INI.."

Karena itu berpuluh tahun pun anak itu tak lupa wajah sang wanita tua.

Apa hikmah dari kisah ini?

Kisah ini menujukkan bahwa apapun yang kita lakukan pada hari ini PASTI akan dibalas oleh ALLAH SWT, mungkin hanya waktu saja yang akan menjawab.
Jadi teruslah berbuat baik, jangan berhenti, dan bersedekahlah... Yakinlah ALLAH SWT akan membalas itu semua. Amin.


Cerita Dari Bapak Ronny Dewanyara Putra
Disadur dari Komunitas Bisa!

Sabtu, 06 Februari 2010

Sultan, Padamu Nak!

Nak,
Lembut kulitmu tlah menjalin cinta
Di hati…
Nyaring tangismu tlah menjelma melodi
di hari-hari
yang selalu memanggilku pulang

Nak,
Maaf jika suara ini tak semerdu vokalis band
Yang tiap hari nyaring di radio-TV
Hingga kadang diri ini malu meninabobokanmu
Nak,
Maaf jika lengan ini tak sehangat
Lengan para ibu
Yang setia menjaga
Hingga kadang tidurmu tak lelap

Tapi, Nak…
Yakinlah cinta ini tak kalah besar
Dengan para ibu sedunia
Raga ini takkan letih mendampingimu
Mengejar matahari
Juga mengejar cintamu kelak

Sebab diri ini tak ingin kau serupa
Dengan seorang lelaki di masa silam…

Nak, tidurlah…
Hingga saat kau terbangun esok
Kau melihat binar di mata ringkih ini…